Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Dua Tahun Mengungsi, Penyintas Lewotobi Hidup dalam Ketakutan dan Keterbatasan

Warga yang mengungsi akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki kini menghadapi tekanan ganda: trauma gempa magnitudo 7,7 dan erupsi kembali, sambil berjuang bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan di tengah kehilangan lahan pertanian.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.57 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Dua Tahun Mengungsi, Penyintas Lewotobi Hidup dalam Ketakutan dan Keterbatasan📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dua tahun setelah erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki menghancurkan rumah dan lahan pertanian mereka, warga di wilayah perbatasan Flores Timur dan Sikka kembali terguncang oleh gempa bumi berkekuatan 7,7 pada 15 Agustus. Guncangan itu memperdalam trauma yang telah menghantui penyintas, terutama setelah gunung tersebut kembali meletus pada 27 Agustus dengan kolom abu mencapai ketinggian 2.500 meter di atas puncak. Kondisi ini memperburuk ketidakstabilan psikologis dan fisik mereka yang masih tinggal di hunian sementara yang tak layak huni.

Anastasia Naran, 34 tahun, bersama empat anak dan ibu mertuanya kini tinggal di bekas kantor kehutanan yang atapnya rusak akibat abu vulkanik. Saat gempa terjadi, ia dan keluarga langsung lari keluar bangunan karena khawatir runtuh. Mereka mengungsi sementara di kios warga di Desa Hikong, menumpang tidur di tanah dengan kasur dari bangunan bekas. Setelah suami kembali dari Lembata, mereka memutuskan kembali ke tempat tinggal sementara—meski dengan rasa takut yang terus menghantui.

Erupsi berulang pada 27 Agustus memperkuat rasa panik. Saat suara dentuman keras menggema dan langit terang oleh cahaya letusan, mereka kembali berlarian ke jalan. Kini, selain ancaman aktivitas vulkanik yang masih berlangsung—dengan status gunung tetap di Level III atau Siaga—mereka juga hidup dalam ketakutan akan gempa susulan. “Kami takut kalau ada gempa lagi. Tapi mau tinggal di mana lagi?” ujar Anastasia, menyadari tidak ada tempat aman yang tersedia.

Kehilangan lahan pertanian akibat abu vulkanik memaksa keluarga berpindah ke pekerjaan serabutan. Anastasia kini mengumpulkan seng bekas dari atap rumah yang rusak, memperbaikinya, dan menjualnya dengan harga Rp2.000 per kilogram. Dalam sehari, mereka bisa menjual 30 kilogram, tetapi hasilnya tidak menentu. Pendapatan bulanan hanya sekitar Rp500.000—jauh di bawah UMR NTT tahun 2026 yang mencapai Rp2,45 juta. Pekerjaan ini juga berisiko tinggi, seperti luka di kaki akibat terkena seng tajam, yang membuatnya kesulitan bergerak.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur menyatakan bantuan pangan, dana tunggu hunian, serta pembangunan hunian tetap masih berjalan bagi ribuan warga yang belum bisa kembali ke desa asal. Namun, proses pemulihan yang lambat dan kurangnya akses ke sumber penghidupan baru justru memperpanjang ketergantungan dan memperdalam kondisi rentan. Para ahli menekankan bahwa pemulihan pascabencana tak cukup dengan bantuan dasar, tetapi harus mencakup penguatan ekonomi dan kemandirian masyarakat yang telah kehilangan semua.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya