Dua Tahun Mengungsi, Penyintas Lewotobi Hidup dalam Ketakutan dan Keterbatasan
Warga yang mengungsi akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki kini menghadapi tekanan ganda: trauma gempa magnitudo 7,7 dan erupsi kembali, sambil berjuang bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan di tengah kehilangan lahan pertanian.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.57 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 BBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Dua tahun setelah erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki menghancurkan rumah dan lahan pertanian mereka, warga di wilayah perbatasan Flores Timur dan Sikka kembali terguncang oleh gempa bumi berkekuatan 7,7 pada 15 Agustus. Guncangan itu memperdalam trauma yang telah menghantui penyintas, terutama setelah gunung tersebut kembali meletus pada 27 Agustus dengan kolom abu mencapai ketinggian 2.500 meter di atas puncak. Kondisi ini memperburuk ketidakstabilan psikologis dan fisik mereka yang masih tinggal di hunian sementara yang tak layak huni.
Anastasia Naran, 34 tahun, bersama empat anak dan ibu mertuanya kini tinggal di bekas kantor kehutanan yang atapnya rusak akibat abu vulkanik. Saat gempa terjadi, ia dan keluarga langsung lari keluar bangunan karena khawatir runtuh. Mereka mengungsi sementara di kios warga di Desa Hikong, menumpang tidur di tanah dengan kasur dari bangunan bekas. Setelah suami kembali dari Lembata, mereka memutuskan kembali ke tempat tinggal sementara—meski dengan rasa takut yang terus menghantui.
Erupsi berulang pada 27 Agustus memperkuat rasa panik. Saat suara dentuman keras menggema dan langit terang oleh cahaya letusan, mereka kembali berlarian ke jalan. Kini, selain ancaman aktivitas vulkanik yang masih berlangsung—dengan status gunung tetap di Level III atau Siaga—mereka juga hidup dalam ketakutan akan gempa susulan. “Kami takut kalau ada gempa lagi. Tapi mau tinggal di mana lagi?” ujar Anastasia, menyadari tidak ada tempat aman yang tersedia.
Kehilangan lahan pertanian akibat abu vulkanik memaksa keluarga berpindah ke pekerjaan serabutan. Anastasia kini mengumpulkan seng bekas dari atap rumah yang rusak, memperbaikinya, dan menjualnya dengan harga Rp2.000 per kilogram. Dalam sehari, mereka bisa menjual 30 kilogram, tetapi hasilnya tidak menentu. Pendapatan bulanan hanya sekitar Rp500.000—jauh di bawah UMR NTT tahun 2026 yang mencapai Rp2,45 juta. Pekerjaan ini juga berisiko tinggi, seperti luka di kaki akibat terkena seng tajam, yang membuatnya kesulitan bergerak.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur menyatakan bantuan pangan, dana tunggu hunian, serta pembangunan hunian tetap masih berjalan bagi ribuan warga yang belum bisa kembali ke desa asal. Namun, proses pemulihan yang lambat dan kurangnya akses ke sumber penghidupan baru justru memperpanjang ketergantungan dan memperdalam kondisi rentan. Para ahli menekankan bahwa pemulihan pascabencana tak cukup dengan bantuan dasar, tetapi harus mencakup penguatan ekonomi dan kemandirian masyarakat yang telah kehilangan semua.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Festival Indonesia 2026 Perkuat Koneksi Budaya di Melbourne
Festival Indonesia 2026 di Melbourne sukses menarik lebih dari 6.000 pengunjung dengan persembahan budaya, kuliner, dan UMKM dari berbagai daerah.
25 Oktober 2026

Ratusan Ribu Warga Israel Desak Pertanggungjawaban atas Kegagalan Keamanan
Ribuan warga Israel menggelar demonstrasi besar di Tel Aviv menuntut penyelidikan independen atas kegagalan keamanan sebelum serangan 7 Oktober 2023, menjelang pemilu yang menentukan arah kebijakan militer dan politik negara.
25 Oktober 2026

Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran dalam Waktu Dekat
Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan serangan terhadap Iran, bahkan bisa terjadi besok, dengan tujuan mencegah pengembangan senjata nuklir secara permanen.
25 Oktober 2026

Kim Jong Un Kunjungi Monumen Perang Korea di Dandong
Pemimpin Korea Utara melakukan kunjungan singkat ke Dandong, China, menjelang peringatan 76 tahun kehadiran relawan Tiongkok dalam Perang Korea, dengan fokus pada simbolisme sejarah dan kebersamaan strategis.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Lonjakan Pasien RS di Kalteng Akibat Kabut Asap, Kemenkes Percepat Bantuan Medis
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.29 WITA

Klaten Perluas Akses PAUD Dukung Wajar 13 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.28 WITA

Operasi Modifikasi Cuaca Turunkan Polusi Selama Acara Besar
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Presiden Tak Bisa Hentikan Gibran Secara Sepihak, Tegas Anggota DPR Gerindra
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

Tito Karnavian Masuk Lima Besar Menteri dengan Kinerja Terbaik
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.27 WITA

PDIP Respons Ajakan PKS Periksa Ijazah Wapres Gibran
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Ledakan di Lapak Besi Tua, Tim Jibom Sterilisasi TKP
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

Kumitra Jambore 2026 Dorong Integrasi UMKM Kalsel ke Pasar Nasional
Minggu, 25 Oktober 2026, 23.26 WITA

