Etika dan Kemampuan: Fondasi Peradaban Indonesia 2045
Yusril Ihza Mahendra menekankan pentingnya menyelaraskan etika peradaban Natsir dengan kedaulatan teknologi Habibie untuk mewujudkan bangsa yang berakar pada nilai dan berdaya saing global.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 18.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Pemimpin bangsa di masa depan harus mampu menjadikan nilai moral sebagai fondasi dalam mengelola kekuasaan, sebagaimana ditegaskan oleh tokoh peradaban Indonesia, Mohammad Natsir. Dalam kesempatan yang dihadiri para tokoh intelektual, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan menekankan bahwa etika publik harus berasal dari orientasi keimanan, yang membentuk prinsip amanah, keadilan, dan musyawarah dalam kehidupan berbangsa. Pemikiran Natsir, khususnya dalam Mosi Integral 1950, menjadi contoh konkret bagaimana keutuhan NKRI harus menjadi prioritas di atas kepentingan kelompok.
Di sisi lain, pemikiran Bacharuddin Jusuf Habibie menawarkan arah lain: keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak terlepas dari iman dan takwa. Habibie menekankan pentingnya membangun kapasitas riset dan industri dalam negeri, bukan sekadar mengonsumsi teknologi asing. Strategi “berawal dari akhir dan berakhir di awal” menunjukkan visi yang jelas: Indonesia harus mampu mencipta, bukan hanya meniru. Ia juga menunjukkan keteladanan etika politik saat menyerahkan kekuasaan secara damai setelah masa transisi Reformasi, menegaskan komitmen pada mekanisme demokrasi konstitusional.
Yusril menyatakan bahwa dua pemikiran ini saling melengkapi: Natsir memberi arah melalui etika, sementara Habibie menyediakan mesin kemajuan. Tanpa etika, kemajuan bisa membawa ke arah yang keliru. Tanpa kemampuan, etika tidak akan terwujud dalam bentuk peradaban yang berkelanjutan. Keduanya menjadi pilar bagi transformasi Indonesia menuju tahun 2045, di mana negara tidak hanya berdaulat secara politik, tetapi juga berdaya saing dalam ranah ilmu dan teknologi.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Yusril merumuskan lima pilar utama. Pertama, peningkatan kemampuan nasional dalam riset dan inovasi. Kedua, evaluasi kebijakan industri berbasis kapasitas dalam negeri yang benar-benar berkembang. Ketiga, demokrasi harus terus dijaga sebagai alat koreksi sosial dan politik. Keempat, nilai-nilai Pancasila harus menjadi panduan dalam praktik kehidupan berbangsa. Kelima, hukum perlu terus beradaptasi dengan dinamika teknologi, termasuk dalam aspek keamanan siber dan kebijakan digital.
Tujuan akhir dari semua ini adalah menciptakan peradaban Indonesia yang tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga mampu berinovasi secara mandiri. Dengan memadukan etika dari Natsir dan kapasitas dari Habibie, bangsa ini memiliki kompas dan mesin sekaligus. Dalam konteks global yang semakin kompleks, keberhasilan Indonesia ditentukan bukan hanya oleh kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas moral dan kapasitas ilmiah yang terus diperkuat.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

PMI Manufaktur RI Masih di Zona Kontraksi
Aktivitas industri manufaktur Indonesia mengalami penurunan pada Agustus 2026, tercatat di level 49,8, menunjukkan penurunan aktivitas produksi.
9 September 2026

Imos 2026 Siap Hadirkan Solusi Mobilitas Modern di Tangerang
Pameran sepeda motor terbesar Tanah Air bakal digelar 20–29 November 2026 di ICE BSD City, menawarkan inovasi teknologi dan beragam solusi mobilitas produktif bagi masyarakat.
8 September 2026

Dana Desa Rp40 T Siap Lunasi Cicilan Kopdes Merah Putih
Pemerintah menjamin pembayaran cicilan proyek Koperasi Desa Merah Putih tidak akan membebani bank negara berkat alokasi dana desa Rp40 triliun per tahun selama enam tahun.
8 September 2026

237 SPBU di Jatim, Bali, NTB, dan NTT Diberi Sanksi BBM Subsidi
Pertamina menerapkan sanksi terhadap 237 SPBU di lima wilayah karena pelanggaran penyaluran BBM bersubsidi hingga September 2026.
8 September 2026
Berita Lainnya

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Rabu, 9 September 2026, 07.45 WITA

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA


