Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Euro Sentuh Level Terendah 17 Bulan Akibat Tekanan Fiskal Prancis

Euro melemah ke posisi terendah dalam 17 bulan terhadap dolar AS karena aksi jual obligasi Prancis dan kekhawatiran fiskal yang memburuk.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Euro Sentuh Level Terendah 17 Bulan Akibat Tekanan Fiskal Prancis📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar euro anjlok ke level terendah dalam periode 17 bulan terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (5/10/2026), menandai tekanan berkelanjutan terhadap mata uang tunggal Eropa. Pergerakan ini terpicu oleh penurunan tajam pada obligasi pemerintah Prancis, yang memperkuat kekhawatiran atas stabilitas fiskal zona euro. Pada sesi pagi di pasar London, euro sempat melemah hingga 0,8% ke level US$1,116, sebelum bergerak di kisaran US$1,121. Sejak awal tahun, euro telah terdepresiasi 4,5% terhadap dolar AS.

Aksi jual obligasi Prancis memperburuk kondisi pasar, dengan yield obligasi tenor 10 tahun mendekati angka 5%. Kenaikan ini merupakan yang paling signifikan di antara negara-negara G7 sejak dimulainya konflik di Iran, naik dari 3,2% pada akhir Februari. Meski sempat menguat di awal sesi, yield kembali turun ke level 4,86% pada akhir perdagangan, tetap mencerminkan tekanan besar terhadap obligasi Prancis. Faktor pemicu utama adalah ketidakpastian atas kemampuan pemerintah Prancis menekan defisit anggaran di bawah 5% dari PDB.

Kekhawatiran ini merambat ke pasar obligasi negara lain di zona euro, terutama Italia, dan memicu spekulasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) harus segera bertindak untuk mencegah penyebaran krisis keuangan. Analis dari MUFG, Lee Hardman, menekankan bahwa kondisi saat ini memperkuat risiko fragmentasi di zona euro, yang dapat mengganggu efektivitas transmisi kebijakan moneter. Ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden Prancis juga menjadi faktor penguat, seiring meningkatnya elektabilitas partai populis.

Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga ECB. Pasar kini memperkirakan hanya dua kenaikan 25 basis poin dalam 12 bulan ke depan, turun dari tiga kenaikan yang diperkirakan sebelumnya. Dampaknya, euro kehilangan daya tarik sebagai aset yang mendukung kenaikan suku bunga. Di pasar valuta asing lain, euro turun 1,6% terhadap franc Swiss bulan ini, menyentuh SFr0,932 — salah satu penurunan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Beberapa analis menilai perbandingan dengan krisis zona euro 2010–2012 terlalu berlebihan, meski tetap memperingatkan perlunya pengawasan ketat. Jim Reid dari Deutsche Bank menyatakan bahwa pasar mungkin sedang bereaksi berlebihan, meski tidak menutup kemungkinan adanya awal dari krisis utang baru. Sementara itu, ahli strategi BNY, Geoffrey Yu, menekankan perlunya kehati-hatian dalam menilai kinerja euro, namun menolak menyamakan kondisi saat ini dengan masa krisis sebelumnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya