Tujuh Perusahaan Siap Melantai di BEI, Dua Beraset Jumbo
Sebanyak tujuh perusahaan telah masuk pipeline IPO di Bursa Efek Indonesia hingga akhir kuartal IV 2026, termasuk dua dengan aset di atas Rp250 miliar.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 17.41 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Hingga pertengahan Oktober 2026, tercatat tujuh perusahaan sedang dalam proses persiapan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah ini mencerminkan aktivitas yang tetap berjalan meski terjadi penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari seluruh calon emiten tersebut, dua perusahaan memiliki aset di atas Rp250 miliar, tiga lainnya berada di kategori menengah (antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar), dan dua sisanya beraset di bawah Rp50 miliar.
Sektor yang paling banyak mengusung IPO adalah kesehatan, dengan empat perusahaan, disusul energi sebanyak dua perusahaan, dan satu perusahaan dari sektor industri. Kondisi pasar global yang dinamis, termasuk ketidakpastian geopolitik, turut memengaruhi waktu pelaksanaan IPO, menurut OJK. Hal ini menyebabkan penurunan jumlah perusahaan yang melantai, dengan data hingga Agustus 2026 menunjukkan penurunan sekitar 68,2% dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Penghimpunan dana dari IPO juga mengalami penurunan drastis, turun hampir 79,2% dari Rp10,39 triliun menjadi Rp2,16 triliun dalam periode yang sama. Meski begitu, OJK menegaskan bahwa tujuan utama bukan hanya jumlah perusahaan yang go public, tetapi kualitas dan efektivitas pendanaan pasar modal. Target penghimpunan dana di pasar modal pada 2026 ditetapkan sebesar Rp250 triliun, sementara hingga 6 September 2026 sudah tercapai Rp148,3 triliun.
Untuk memastikan kualitas dan kesiapan calon emiten, OJK bersama BEI terus melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan khusus di berbagai daerah. Meski jumlah IPO menurun, beberapa saham baru yang melantai tetap menunjukkan kinerja positif dengan lonjakan harga signifikan di hari pertama perdagangan. Namun, hal ini belum cukup untuk menunjukkan pemulihan fungsi pasar perdana sebagai sumber pendanaan utama bagi perusahaan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

INPS Perkuat Lini Bisnis Otomotif dengan Akuisisi 90% Saham Dealer
Perusahaan induk INPS resmi mengakuisisi 90% saham PT Tri Satria Indah Motor senilai Rp5,8 miliar, menandai ekspansi ke sektor otomotif roda tiga.
6 Oktober 2026

Bursa Mineral Awalnya Gunakan Rupiah dan Dolar AS
OJK pastikan transaksi di Bursa Mineral dan Komoditas Strategis dapat dilakukan dalam rupiah dan dolar AS pada tahap awal, dengan aturan berbasis POJK 2026.
6 Oktober 2026

HP Capital Lepas Saham LUCY Senilai Rp7,12 Miliar
Perusahaan investasi HP Capital Resources menjual total 27,67 juta saham LUCY senilai Rp7,12 miliar dalam tiga transaksi pada Oktober 2026.
6 Oktober 2026

Asing Jual Bersih Rp273,81 M, Lima Saham Ini Diborong Investor
Investor asing mencatat penjualan bersih Rp273,81 miliar di sesi I, namun lima saham justru mengalami akumulasi beli signifikan, didorong sentimen domestik dan global.
6 Oktober 2026
Berita Lainnya

Petani Karet Keluhkan Dukungan Pemerintah yang Minim
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.42 WITA

BUVA Gelar Rights Issue Rp1,54 Triliun untuk Perluas Pengembangan Properti
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA

Rupiah Sempat Melemah, Akhirnya Menguat Tipis di Rp17.890
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA

Euro Sentuh Level Terendah 17 Bulan Akibat Tekanan Fiskal Prancis
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA

IHSG Melonjak 1,21% ke Level 6.192 di Tengah Kenaikan Sektor Energi
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA

Franky Widjaja Resmi Jadi Pemilik KETR Lewat Sinar Mas
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA

Rosan: BKPM Tetap Berjalan, Koordinasi Jadi Fokus Utama
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA
Undang-Undang Ketenagakerjaan Baru Tegaskan Perlindungan dan Keadilan di Tempat Kerja
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.39 WITA

