Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BUVA Gelar Rights Issue Rp1,54 Triliun untuk Perluas Pengembangan Properti

Perseroan siapkan penambahan modal melalui rights issue senilai Rp1,54 triliun guna mendukung ekspansi proyek properti dan pelunasan utang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
BUVA Gelar Rights Issue Rp1,54 Triliun untuk Perluas Pengembangan Properti📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) resmi menyiapkan aksi korporasi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) tahap kedua, bernilai total Rp1,54 triliun. Penawaran ini melibatkan penerbitan 6,15 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham, mewakili sekitar 20% dari modal ditempatkan dan disetor setelah pelaksanaan. Harga pelaksanaan ditetapkan Rp250 per saham, yang akan menghasilkan dana sebesar Rp1,538 triliun setelah dikurangi biaya emisi.

Setiap pemegang saham yang terdaftar dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 15 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB berhak atas hak memesan efek (HMETD) dengan rasio 1 HMETD untuk setiap 4 saham lama. Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD berlangsung dari 19 hingga 30 Oktober 2026, dengan pembayaran terakhir pada 3 November. Jika hak tidak digunakan, pemegang saham berpotensi mengalami dilusi hingga maksimal 20%.

Untuk menjamin kelancaran penyerapan saham baru, empat pihak telah menandatangani perjanjian pembelian siaga, termasuk Hapsoro yang menyatakan kesiapan menyerap hingga 389 juta saham. Sisa saham yang tidak diambil pemegang saham lain akan dialokasikan secara proporsional kepada pembeli siaga lainnya sesuai komitmen maksimum. Pemegang saham utama, PT Nusantara Utama Investama (NUI), akan menebus sebagian haknya dan menyerahkan sisa ke PT Tata Tirta Datun (TTD) yang telah berkomitmen menyerap seluruh saham yang dialihkan.

Dana hasil rights issue akan digunakan untuk berbagai proyek strategis, termasuk penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai (BBP) sebesar Rp426,34 miliar, pelunasan utang ke Bank Mandiri senilai Rp417,8 miliar, serta renovasi Alila Ubud senilai Rp150 miliar. Sisa dana juga dialokasikan untuk pengembangan kawasan di Lagoi, Bintan, dan pembangunan infrastruktur Uluwatu Estate di Bali, dengan target penyelesaian hingga kuartal IV 2029.

Dalam empat bulan pertama 2026, BUVA mencatat pendapatan Rp96,32 miliar, turun 1,96% dari periode yang sama tahun sebelumnya, disebabkan penurunan jumlah tamu akibat faktor musiman dan ketegangan geopolitik. Meski demikian, rata-rata tarif kamar (ADR) meningkat 5,86% menjadi Rp5,44 juta. Rugi bersih tercatat Rp5,66 miliar, berbalik dari laba Rp73,17 miliar pada periode sama tahun lalu, yang sebagian besar dipengaruhi pengakuan laba dari entitas asosiasi.

Per 30 April 2026, total aset BUVA mencapai Rp2,71 triliun, dengan liabilitas Rp569,31 miliar dan ekuitas Rp2,14 triliun. Rasio liabilitas terhadap ekuitas sebesar 26,57%, jauh di bawah batas 150% dalam perjanjian kredit. Namun, rasio cakupan utang (DSCR) tercatat 83,46%, di bawah persyaratan minimum 100% yang ditetapkan dalam perjanjian investasi, tanpa penjelasan lebih lanjut dari pihak perseroan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya