Petani Karet Keluhkan Dukungan Pemerintah yang Minim
Petani karet menyoroti ketimpangan dukungan pemerintah dibandingkan sawit, dengan sebagian besar kebun sudah tua dan produktivitas menurun drastis.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 17.42 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kondisi perkebunan karet rakyat di Indonesia terus memburuk akibat minimnya bantuan dari pemerintah, seiring tren peralihan lahan ke tanaman kelapa sawit. Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi IV DPR RI, perwakilan Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) dari Sumatra Selatan menyampaikan bahwa tanaman karet rakyat mayoritas berusia tua, berasal dari masa tanam era 1980-an hingga 2000-an, dan kini hanya sekitar 300 ribu hingga 400 ribu hektare yang masih produktif.
Ketua DPW Apkarindo Sumatra Selatan menegaskan bahwa petani karet tidak mendapatkan fasilitas dasar seperti bantuan bibit atau pupuk, berbeda dengan sawit yang mendapat insentif hingga Rp60 juta per hektare untuk peremajaan. Ia menyebut karet menjadi komoditas "anak tiri" karena tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah dari tingkat kabupaten hingga pusat, meski sebagian besar perkebunan karet dikelola oleh petani rakyat.
Kenaikan harga karet terkini belum mampu memperbaiki kondisi karena sebagian besar kebun sudah mengalami over tapping atau penyadapan berlebihan, sehingga hasil produksi menurun drastis. Banyak petani memilih beralih ke sawit karena lebih menguntungkan secara ekonomi—kayu karet dijual cepat, lahan diganti dengan sawit yang memberi hasil lebih cepat. Akibatnya, jumlah pabrik pengolahan karet di Sumatra Selatan turun dari 30 menjadi 19, dengan sebagian besar beroperasi di bawah kapasitas karena kekurangan bahan baku.
Data menunjukkan produksi karet Indonesia merosot dari 3,68 juta ton pada 2017 menjadi 2,1 juta ton pada 2025. Pada September 2026, dari 157 unit crumb rubber, 60 di antaranya sudah berhenti beroperasi. Profesi penyadap karet juga semakin ditinggalkan karena upah harian hanya berkisar Rp50.000 hingga Rp60.000, jauh di bawah standar hidup layak.
Petani meminta pemerintah segera memberikan dukungan berupa bantuan pada masa tanam, termasuk penyediaan bibit dan pupuk terjangkau. Mereka juga mengusulkan pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Karet yang pendanaannya berasal dari pungutan ekspor atau cess karet, guna mendukung peremajaan, riset, pengembangan SDM, dan industri hilir. Dengan tidak segera ditangani, Supartijo memperingatkan bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, karet sebagai komoditas nasional bisa lenyap dari perkebunan rakyat.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Rosan: BKPM Tetap Berjalan, Koordinasi Jadi Fokus Utama
Menteri Investasi dan Hilirisasi menegaskan BKPM tetap eksis dan akan mengikuti arahan pemerintah terkait struktur kementerian koordinator baru.
6 Oktober 2026
Undang-Undang Ketenagakerjaan Baru Tegaskan Perlindungan dan Keadilan di Tempat Kerja
RUU Ketenagakerjaan yang disahkan DPR menegaskan hak dasar pekerja, perkuat pengawasan, dan jamin keadilan dalam hubungan kerja secara menyeluruh.
6 Oktober 2026

Airlangga Soroti Ketidakseimbangan Penilaian Rating Global terhadap Indonesia
Menteri Koordinator Perekonomian menyoroti ketatnya penilaian lembaga pemeringkat global terhadap fiskal Indonesia meski postur makro jauh lebih konservatif dibanding negara lain.
6 Oktober 2026

Indonesia Tak Gelap, Masa Depan Cerah Menurut Utusan Presiden
Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Iklim menegaskan bahwa narasi "Indonesia Gelap" tidak benar, menekankan bahwa negara memiliki masa depan cerah dan menjadi tujuan investasi global karena kebijakan luar negeri damai dan netral.
6 Oktober 2026
Berita Lainnya

INPS Perkuat Lini Bisnis Otomotif dengan Akuisisi 90% Saham Dealer
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.41 WITA

Bursa Mineral Awalnya Gunakan Rupiah dan Dolar AS
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.41 WITA

HP Capital Lepas Saham LUCY Senilai Rp7,12 Miliar
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.41 WITA

Asing Jual Bersih Rp273,81 M, Lima Saham Ini Diborong Investor
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.41 WITA

Tujuh Perusahaan Siap Melantai di BEI, Dua Beraset Jumbo
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.41 WITA

BUVA Gelar Rights Issue Rp1,54 Triliun untuk Perluas Pengembangan Properti
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA

Rupiah Sempat Melemah, Akhirnya Menguat Tipis di Rp17.890
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA

Euro Sentuh Level Terendah 17 Bulan Akibat Tekanan Fiskal Prancis
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA

