Airlangga Soroti Ketidakseimbangan Penilaian Rating Global terhadap Indonesia
Menteri Koordinator Perekonomian menyoroti ketatnya penilaian lembaga pemeringkat global terhadap fiskal Indonesia meski postur makro jauh lebih konservatif dibanding negara lain.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 17.39 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keheranan terhadap standar penilaian yang diterapkan lembaga pemeringkat global terhadap Indonesia, khususnya soal konsistensi dalam menilai indikator fiskal makro. Ia menekankan bahwa kebijakan fiskal Indonesia jauh lebih hati-hati dibanding banyak negara maju dan tetangga, namun tetap dihadapkan pada penilaian yang dinilainya terlalu ketat.
Dalam paparannya di acara BIG Downstream Insights 2026, Airlangga memaparkan data rasio utang terhadap PDB Indonesia yang berada di level 41 persen, sementara defisit anggaran terus dipertahankan di bawah 3 persen. Ia membandingkan kondisi ini dengan Amerika Serikat yang memiliki defisit 5,8 persen dan utang terhadap PDB mencapai 123,3 persen, India dengan defisit 4,4 persen dan rasio utang 83,10 persen, serta Jepang yang memiliki utang 248,7 persen meski defisit anggaran hanya minus 0,6 persen.
Airlangga juga menyebut Singapura sebagai contoh lain, di mana meski memiliki surplus anggaran sebesar 1,9 persen, rasio utang terhadap PDB mencapai 171,3 persen. Dari perbandingan ini, ia menyoroti ketidaksesuaian dalam penilaian global yang menurutnya tidak mencerminkan realitas fiskal yang lebih stabil di Indonesia. Ia mempertanyakan motif di balik penilaian yang dianggap diskriminatif: apakah murni ekonomi, atau ada faktor lain yang memengaruhi keputusan lembaga tersebut.
Di tengah tekanan tersebut, Airlangga menegaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tetap kuat. Meski proyeksi pertumbuhan global oleh lembaga seperti IMF dan World Bank berada di kisaran 3 persen, ekonomi Indonesia mampu tumbuh lebih tinggi, mencapai 5,45 persen pada semester pertama tahun ini. Ia optimistis angka tersebut dapat dipertahankan hingga akhir tahun, menunjukkan ketahanan struktural yang kokoh di tengah dinamika global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Petani Karet Keluhkan Dukungan Pemerintah yang Minim
Petani karet menyoroti ketimpangan dukungan pemerintah dibandingkan sawit, dengan sebagian besar kebun sudah tua dan produktivitas menurun drastis.
6 Oktober 2026

Rosan: BKPM Tetap Berjalan, Koordinasi Jadi Fokus Utama
Menteri Investasi dan Hilirisasi menegaskan BKPM tetap eksis dan akan mengikuti arahan pemerintah terkait struktur kementerian koordinator baru.
6 Oktober 2026
Undang-Undang Ketenagakerjaan Baru Tegaskan Perlindungan dan Keadilan di Tempat Kerja
RUU Ketenagakerjaan yang disahkan DPR menegaskan hak dasar pekerja, perkuat pengawasan, dan jamin keadilan dalam hubungan kerja secara menyeluruh.
6 Oktober 2026

Indonesia Tak Gelap, Masa Depan Cerah Menurut Utusan Presiden
Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Iklim menegaskan bahwa narasi "Indonesia Gelap" tidak benar, menekankan bahwa negara memiliki masa depan cerah dan menjadi tujuan investasi global karena kebijakan luar negeri damai dan netral.
6 Oktober 2026
Berita Lainnya

INPS Perkuat Lini Bisnis Otomotif dengan Akuisisi 90% Saham Dealer
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.41 WITA

Bursa Mineral Awalnya Gunakan Rupiah dan Dolar AS
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.41 WITA

HP Capital Lepas Saham LUCY Senilai Rp7,12 Miliar
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.41 WITA

Asing Jual Bersih Rp273,81 M, Lima Saham Ini Diborong Investor
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.41 WITA

Tujuh Perusahaan Siap Melantai di BEI, Dua Beraset Jumbo
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.41 WITA

BUVA Gelar Rights Issue Rp1,54 Triliun untuk Perluas Pengembangan Properti
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA

Rupiah Sempat Melemah, Akhirnya Menguat Tipis di Rp17.890
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA

Euro Sentuh Level Terendah 17 Bulan Akibat Tekanan Fiskal Prancis
Selasa, 6 Oktober 2026, 17.40 WITA

