Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AI Dorong Ekonomi Asia Timur dan Pasifik, Indonesia Unggul Berkat Permintaan Domestik

Bank Dunia menyoroti potensi AI memacu pertumbuhan ekonomi di Asia Timur dan Pasifik, dengan Indonesia menonjol karena ketergantungan pada daya beli dalam negeri.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 15.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
AI Dorong Ekonomi Asia Timur dan Pasifik, Indonesia Unggul Berkat Permintaan Domestik📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Kawasan Asia Timur dan Pasifik berpotensi menjadi pionir pertumbuhan ekonomi berbasis kecerdasan buatan, sebagaimana disampaikan dalam laporan terbaru Bank Dunia. Integrasi kuat dalam rantai nilai global dan dinamika ekonomi yang tinggi menjadi fondasi utama bagi kawasan untuk memanfaatkan lonjakan aktivitas teknologi AI secara global. Namun, peluang ini belum sepenuhnya terwujud karena adopsi AI masih terbatas, terutama di sektor-sektor yang membutuhkan kapasitas sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung.

Wakil Presiden Bank Dunia untuk kawasan menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan pada kemampuan produksi, melainkan pada transformasi keunggulan tersebut menjadi penerapan luas yang mendorong produktivitas dan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Meski sejumlah negara telah memanfaatkan ekspor produk berteknologi tinggi sebagai pemicu pertumbuhan, adopsi AI secara menyeluruh masih tertinggal dibanding negara maju, dengan hambatan utama berupa biaya tinggi, keterbatasan keahlian, serta kekhawatiran terkait keamanan data dan privasi.

Indonesia menunjukkan pola berbeda dibandingkan tetangga regional. Menurut Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia, pertumbuhan ekonomi Tanah Air justru didorong oleh permintaan domestik yang kuat, sehingga tidak terlalu terpapar volatilitas global terkait AI. "Yang paling menonjol di Indonesia adalah daya beli dalam negeri, bukan ekspor teknologi," tegasnya. Pendekatan ini memberi ketahanan ekonomi yang lebih stabil, meski belum secara langsung memanfaatkan gelombang AI secara maksimal.

Upaya percepatan adopsi AI bisa dimulai dari teknologi yang sudah tersedia, seperti Small AI, yang dapat dimanfaatkan oleh UMKM dan sektor informal tanpa harus mengembangkan sistem kompleks. Dukungan infrastruktur digital, energi, pembiayaan, serta pelatihan keterampilan menjadi kunci untuk memastikan manfaat AI merata. Peran pemerintah sebagai pengguna dan pengatur juga penting, baik dalam meningkatkan layanan publik maupun membangun kerangka regulasi yang mendukung inovasi tanpa mengorbankan keamanan.

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan mencapai 4,5 persen pada 2026, dengan negara-negara yang berhasil mengintegrasikan AI dalam ekonomi domestik mencatat kenaikan lebih tinggi. Rekomendasi utama meliputi perbaikan iklim usaha, investasi dalam kapasitas manusia, dan penyesuaian teknologi AI dengan konteks lokal, termasuk penggunaan bahasa daerah dan perangkat yang terjangkau, khususnya di sektor seperti pertanian dan pariwisata yang menyerap tenaga kerja besar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya