Asia Timur dan Pasifik Hadapi Tantangan Pertumbuhan 2026
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik mencapai 4,5% pada 2026, didorong oleh ketergantungan tinggi pada rantai pasok AI dan ancaman El Nino.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 12.22 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi wilayah Asia Timur dan Pasifik akan mencapai 4,5% pada tahun 2026, mengalami kenaikan 0,3 poin persentase dibandingkan proyeksi sebelumnya pada April. Peningkatan ini mencerminkan optimisme terhadap dinamika ekonomi regional, namun tetap disertai peringatan menyeluruh mengenai risiko struktural yang mengancam stabilitas pertumbuhan.
Salah satu ancaman utama berasal dari ketergantungan ekspor yang tinggi terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Menurut Chief Economist Asia Bank Dunia, Franziska Ohnsorge, negara-negara seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand mengalami keterkaitan erat antara aktivitas ekonomi dan permintaan global terhadap produk berbasis AI. Di Vietnam, nilai ekspor terkait AI mendekati 50% dari PDB, sementara Malaysia dan Thailand masing-masing menyumbang sekitar 40% dan lebih dari 20% dari total produk domestik bruto.
Jika terjadi perlambatan permintaan global terhadap produk AI, maka dampaknya akan langsung terasa pada pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Franziska menegaskan bahwa integrasi yang kuat dalam rantai pasok global justru bisa menjadi titik rentan jika kondisi eksternal berubah, terutama dalam konteks fluktuasi teknologi dan permintaan pasar.
Selain risiko teknologi, fenomena El Nino juga menjadi perhatian khusus. Meski telah menjadi bagian dari antisipasi tahunan terutama di bidang pertanian, dampak tahun ini diperkirakan lebih parah dibandingkan periode sebelumnya. Franziska menyoroti bahwa sejumlah negara yang sangat bergantung pada produksi tanaman pangan berpotensi mengalami penurunan hasil panen, yang dapat memicu tekanan pada stabilitas harga pangan dan kesejahteraan sosial.
Kedua ancaman ini, meski tidak bersifat tunggal, berpotensi mengganggu konsistensi pertumbuhan ekonomi. Peringatan ini menjadi dasar bagi kebijakan mitigasi jangka panjang, khususnya dalam diversifikasi ekspor, penguatan ketahanan pangan, dan penyesuaian struktur ekonomi agar tidak terlalu terpapar volatilitas global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

TBPKP Bukan STNK, Ini Fungsi dan Isi Dokumen Penting di Belakang STNK
TBPKP adalah bukti pelunasan pajak kendaraan yang berbeda dari STNK, berlaku satu tahun dan harus disimpan bersama dokumen utama.
6 Oktober 2026

Aturan Keberatan Pajak Diperbarui, Ini Perubahan Kunci
Pemerintah resmi keluarkan peraturan baru yang memperjelas tata cara keberatan, pengurangan, dan penghapusan sanksi pajak, termasuk mekanisme permintaan data dan pemutihan sementara.
6 Oktober 2026

Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,2%
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dinaikkan Bank Dunia menjadi 5,2%, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya dan unggul atas rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik.
6 Oktober 2026

Pertumbuhan Ekonomi EAP Diproyeksikan 4,5% di 2026, Didorong AI dan Produksi Teknologi
Proyeksi Bank Dunia menunjukkan ekonomi Asia Timur dan Pasifik tumbuh 4,5% pada 2026, didorong adopsi teknologi AI dan ekspor barang berteknologi tinggi.
6 Oktober 2026
Berita Lainnya

Honda Uji Coba Pengisian Listrik Mobil Saat Melaju di Jalan Tol
Selasa, 6 Oktober 2026, 12.29 WITA

Anthropic Gagal Lobi Vatikan Soal Kesadaran AI
Selasa, 6 Oktober 2026, 12.23 WITA

Mogok Nasional 24 Jam Didesain untuk Keadilan Perumahan dan Upah
Selasa, 6 Oktober 2026, 12.23 WITA

Pengalihan Utang KCIC ke Kemenkeu Terus Berjalan
Selasa, 6 Oktober 2026, 12.22 WITA

Puan Sahkan UU Perlindungan Ketenagakerjaan
Selasa, 6 Oktober 2026, 12.22 WITA

Menkeu Tekankan Peran Bea Cukai Jaga Ekonomi dan Penerimaan Negara
Selasa, 6 Oktober 2026, 12.21 WITA

Rupiah Menguat Tipis di Pembukaan, Dolar AS Terkoreksi ke Rp17.875
Selasa, 6 Oktober 2026, 12.21 WITA

BEI Pantau Ketat Tiga Saham Akibat Kenaikan Tak Wajar
Selasa, 6 Oktober 2026, 12.21 WITA

