Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,2%

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dinaikkan Bank Dunia menjadi 5,2%, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya dan unggul atas rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 12.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,2%📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bank Dunia mengumumkan kenaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 5,2%, meningkat dari 4,7% yang diperkirakan pada laporan April 2026. Angka ini juga melampaui perkiraan pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang diproyeksikan tumbuh 4,5%, naik dari 4,2% sebelumnya. Laporan terbaru, East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2026, menekankan peran kecerdasan buatan dalam mendorong pertumbuhan di negara-negara yang terlibat dalam rantai pasok teknologi canggih, sementara tekanan biaya energi tetap menjadi tantangan utama bagi ekonomi kepulauan.

Kinerja ekonomi Indonesia pada semester pertama 2026 menunjukkan kekuatan signifikan, dengan pertumbuhan mencapai 5,4%, melampaui angka 5,1% pada 2025. Penguatan ini didorong oleh kenaikan konsumsi rumah tangga dan peningkatan belanja pemerintah yang dimajukan akibat pergeseran waktu Ramadan dan Idulfitri, serta pelaksanaan dini program makan bergizi gratis dan pencairan bonus hari raya sektor publik. Bank Dunia mencatat ini sebagai dua kuartal terkuat dalam periode sejak 2022.

Namun, aktivitas ekonomi domestik mulai melambat pada paruh kedua tahun ini. Indeks manufaktur (PMI) turun ke level 49,3 pada Agustus, menunjukkan kontraksi, sementara indeks keyakinan konsumen melemah menjadi 116,8 di Juli. Di sisi fiskal, defisit yang membesar memicu kekhawatiran pasar mengenai stabilitas keuangan negara dan peringkat kredit Indonesia. Sentimen investor juga terganggu pada kuartal I-2026, dengan arus keluar portofolio mencapai 0,2% terhadap PDB, didorong oleh kenaikan harga minyak global dan gangguan di sektor pelayaran.

Ancaman penurunan status Indonesia menjadi pasar frontier oleh indeks MSCI mengintai, yang berpotensi memicu aksi jual otomatis dari dana indeks pasif. Untuk menstabilkan situasi, pemerintah dan Bank Indonesia menerapkan langkah-langkah strategis, termasuk penggunaan cadangan devisa, reformasi sektor keuangan, serta kenaikan suku bunga kebijakan sebesar 100 basis poin dalam periode Mei dan Juni 2026. Langkah ini dinilai efektif dalam membatasi dampak depresiasi rupiah terhadap inflasi.

Kebijakan subsidi energi yang dipertahankan juga berperan penting dalam menjaga stabilitas harga. Inflasi turun dari 4,8% pada Februari menjadi 3,4% pada Juli 2026. Bank Dunia menilai bahwa kebijakan koordinasi antar lembaga telah membantu memitigasi tekanan eksternal, meski tantangan struktural tetap perlu diatasi untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan dan berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya