Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pertumbuhan Ekonomi EAP Diproyeksikan 4,5% di 2026, Didorong AI dan Produksi Teknologi

Proyeksi Bank Dunia menunjukkan ekonomi Asia Timur dan Pasifik tumbuh 4,5% pada 2026, didorong adopsi teknologi AI dan ekspor barang berteknologi tinggi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 12.22 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pertumbuhan Ekonomi EAP Diproyeksikan 4,5% di 2026, Didorong AI dan Produksi Teknologi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bank Dunia kembali memperbarui proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) untuk tahun 2026, menetapkan angka 4,5%, naik 0,3 poin dari proyeksi sebelumnya di April 2026 yang sebesar 4,2%. Angka ini mencerminkan ketangguhan ekonomi regional di tengah tekanan global, meski distribusi pertumbuhan tetap tidak merata antar negara dan sektor. Faktor utama pendorong meliputi peningkatan produksi dan ekspor barang teknologi tinggi yang berkaitan dengan lonjakan aktivitas global terkait kecerdasan buatan (AI).

Beberapa negara menunjukkan kenaikan proyeksi signifikan, termasuk Vietnam yang diproyeksikan tumbuh 7,4%—naik 1,1 poin persentase—Malaysia mencapai 5,1% (+0,7 poin), serta Thailand yang diproyeksikan tumbuh 2,0% (+0,7 poin). Sementara itu, negara-negara kepulauan Pasifik hanya mampu tumbuh 2,2%, lebih rendah 0,5 poin dari perkiraan sebelumnya, akibat ketergantungan tinggi pada bahan bakar dan ketahanan eksternal yang terbatas. Tiongkok, ekonomi terbesar di kawasan, diperkirakan tumbuh 4,4% pada 2026, dipengaruhi oleh permintaan domestik yang terbatas serta penyesuaian sektor properti.

Peningkatan ekonomi ini, menurut laporan pembaruan ekonomi semitahunan Bank Dunia, berpotensi diperkuat oleh integrasi mendalam kawasan dalam rantai nilai global, terutama dalam industri terkait AI. Namun, tantangan utama tetap berada pada transformasi dari kapasitas produksi menjadi adopsi luas teknologi. Dalam hal ini, pemerintah diminta bertindak strategis untuk memastikan manfaat AI tidak hanya menguntungkan sektor tertentu, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan secara luas.

Laporan juga menyoroti ketimpangan dalam akses dan penerapan AI, di mana meskipun adopsi di kalangan perusahaan dan individu meningkat, masih tertinggal dibanding negara maju. Biaya tinggi, kekurangan kompetensi, dan kekhawatiran soal keamanan data menjadi hambatan utama. Di tengah itu, potensi jangka pendek terletak pada penerapan AI kecil—teknologi yang sudah ada dan dapat diakses—khususnya di sektor yang menyerap tenaga kerja besar seperti pariwisata dan agribisnis. Rekomendasi utama meliputi penguatan infrastruktur digital dan energi, peningkatan kapasitas keterampilan, serta peran aktif pemerintah sebagai pengguna dan regulator untuk mempercepat transformasi inklusif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya