Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Film *Beautiful Pain* Tampilkan Perjuangan Ibu Tunggal Hadapi KDRT dan Kebangkitan

Film drama psikologis *Beautiful Pain* yang tayang 22 Oktober 2026 menggambarkan perjalanan seorang ibu tunggal melawan trauma KDRT, perceraian, dan sistem yang timpang, berdasarkan kisah nyata yang diadaptasi dari pengalaman perempuan Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 15.39 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 70x dibuka
Film *Beautiful Pain* Tampilkan Perjuangan Ibu Tunggal Hadapi KDRT dan Kebangkitan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Film *Beautiful Pain* resmi dirilis di bioskop pada 22 Oktober 2026, mengangkat kisah nyata seorang perempuan yang harus memulihkan hidupnya setelah bertahun-tahun hidup dalam rumah tangga beracun. Cerita berpusat pada Niken, yang diperankan Raihaanun, dan suaminya Dirga, digambarkan melalui Baim Wong, dalam konflik rumah tangga yang penuh tekanan psikologis dan kekerasan. Kejadian kritis terjadi ketika Niken mengetahui Dirga berperilaku tidak layak di tempat hiburan malam, memicu kesadaran akan kondisi pernikahan yang merusak mental dan emosionalnya.

Setelah memilih untuk bercerai demi keselamatan diri dan anak-anak, Niken menghadapi berbagai tantangan hukum dan ekonomi. Proses persidangan yang panjang, kehilangan aset, serta tekanan sosial menjadi bagian dari perjuangannya untuk membangun kehidupan baru. Dengan dukungan ibunya, ia memilih hidup sederhana, namun tetap tegar. Kehidupan mulai berubah ketika ia mendapat kesempatan berakting setelah bertemu casting director Randy, yang diperankan Tarra Budiman.

Kesuksesan bermain sinetron menjadi titik balik dalam hidupnya, membuka peluang ekonomi dan kebebasan. Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Niken kembali diuji dengan fitnah, pelecehan, dan stigma sosial yang mengancam reputasinya. Bahkan hak asuh anak-anaknya sempat direbut, membuatnya merasa kehilangan arah. Dalam kondisi paling sulit, ia memutuskan bangkit, menentang sistem yang timpang, dan memperjuangkan kembali martabat, keluarga, dan suaranya.

Film ini ditulis oleh Titien Wattimena, Hanung Bramantyo, dan Dmaz Brodjonegoro, dengan Dmaz sebagai sutradara debut panjangnya. Nikita Mirzani turut berperan sebagai produser eksekutif dan pemeran pendukung, membawa pengalaman pribadi sebagai inspirasi utama. Melalui karya ini, film ingin menyoroti realitas perempuan Indonesia dalam menghadapi KDRT, stigma, dan ketidakadilan sistemik, sekaligus menunjukkan kekuatan dan ketahanan dalam bangkit dari penderitaan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya