Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Gaji UMR Tapi Masuk Desil 10? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Pengukuran kesejahteraan melalui desil tidak didasarkan pada pendapatan langsung, melainkan berbagai indikator sosial ekonomi yang diamati secara komprehensif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 18.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Gaji UMR Tapi Masuk Desil 10? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah kini memungkinkan masyarakat untuk mengetahui posisi kesejahteraan mereka melalui sistem desil yang diakses melalui platform resmi. Banyak warga yang terkejut menemukan diri mereka berada di desil 10—kategorisasi terendah—meski penghasilan mereka sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR). Fenomena ini memicu pertanyaan publik mengenai keakuratan sistem pengukuran kesejahteraan yang digunakan.

Desil bukanlah ukuran langsung dari gaji, melainkan hasil analisis statistik yang mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah Proxy Means Test (PMT), sebuah pendekatan yang memperkirakan tingkat kesejahteraan berdasarkan variabel yang dapat diamati secara langsung. Hal ini dilakukan karena data pendapatan perorangan masih sulit dikumpulkan secara menyeluruh, terutama dari sektor informal yang tidak memiliki rekaman keuangan formal.

Indikator yang dimasukkan dalam perhitungan desil mencakup kondisi perumahan, akses air bersih, sumber energi untuk memasak, kepemilikan aset, konsumsi listrik, tingkat pendidikan, pekerjaan, status kesehatan, serta keberadaan disabilitas dalam keluarga. Semua data ini dikumpulkan dari berbagai sumber administratif, termasuk DTKS, P3KE, Regsosek, dan data kependudukan dari Dirjen Dukcapil. Dengan integrasi data tersebut, sistem mampu mengelompokkan masyarakat ke dalam desil 1 hingga 10 secara objektif.

Ahli statistik menegaskan bahwa meski penggunaan pendapatan ideal sebagai acuan, data pendapatan secara langsung masih terbatas di Indonesia. Oleh karena itu, pendekatan berbasis pengeluaran dan aset tetap relevan sebagai alternatif yang valid. Ia juga menyarankan pemanfaatan data pajak sebagai salah satu sumber informasi pendapatan yang dapat memperkaya analisis sosial ekonomi, karena mencerminkan potensi penghasilan individu secara realistis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya