Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Gelombang Protes Eropa Meningkat Akibat Tekanan Biaya Hidup

Aksi protes massal melanda lima negara Eropa akibat tekanan ekonomi, dengan kerusuhan, pembakaran, dan penangkapan massa melanda sejumlah kota utama.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 09.28 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 114x dibuka
Gelombang Protes Eropa Meningkat Akibat Tekanan Biaya Hidup📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Pertengahan Oktober 2023 menjadi titik puncak ketegangan sosial di sejumlah negara Eropa, ketika demonstrasi besar-besaran melanda Prancis, Albania, Italia, Portugal, dan Belgia. Aksi yang dimulai dari keluhan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok dan tingginya biaya perumahan kini menyebar ke isu layanan publik dan kualitas pendidikan. Kekerasan mulai muncul dalam bentuk pembakaran kendaraan, penjarahan toko, dan penyerangan terhadap fasilitas umum, terutama di kota-kota besar seperti Paris, Lyon, dan Limoges.

Di Prancis, situasi memburuk pada malam hari saat aksi damai berubah menjadi kerusuhan. Petugas keamanan melaporkan sekitar 150 personel terluka akibat serangan dari massa, sementara otoritas menangkap sedikitnya 1.200 orang. Polisi antihuru-hara dikerahkan dengan menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menekan kerumunan, namun kekerasan juga terjadi dalam proses penangkapan, menimbulkan kekhawatiran atas pelanggaran hak asasi manusia.

Di Lyon, kantor pariwisata yang bersejarah dilalap api, menyebabkan sebagian atap bangunan runtuh. Wali Kota Gregory Doucet menyatakan kejadian tersebut sebagai tragedi nasional karena bangunan tersebut merupakan simbol budaya dan ekonomi kota. Di Saint-Etienne, seorang pemuda dilaporkan kehilangan tangan akibat ledakan benda yang diduga merupakan bahan peledak, menambah kekhawatiran akan adanya ancaman keamanan yang lebih besar dari demonstran.

Pemerintah Prancis menanggapi dengan menegaskan bahwa pihaknya sedang melakukan evaluasi terhadap kebijakan ekonomi dan sosial, terutama dalam upaya menangani kenaikan harga energi dan bahan pangan. Namun, masyarakat tetap menuntut respons lebih cepat dan konkret, menyebut aksi ini sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan struktural yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Protes yang meluas di lima negara ini menunjukkan adanya keterkaitan antara kondisi ekonomi domestik dan stabilitas politik. Kekerasan dan kerusakan infrastruktur menunjukkan eskalasi yang signifikan, namun tetap menjadi cerminan dari ketidakpuasan luas terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak responsif terhadap kesejahteraan rakyat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya