Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Gubernur BI: Rekrutmen 160 Ribu, Hanya 150 yang Diterima

Dari 160 ribu pelamar, BI hanya menerima kurang dari 150 orang, menunjukkan ketimpangan antara minat melamar dan ketersediaan talenta teknologi di Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 12.07 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Gubernur BI: Rekrutmen 160 Ribu, Hanya 150 yang Diterima📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Proses rekrutmen Bank Indonesia tahun ini mengungkap disparitas besar antara jumlah pelamar dan kualifikasi yang dibutuhkan. Sebanyak 160 ribu calon pelamar mendaftar, namun hanya sekitar 150 orang yang berhasil diterima. Angka ini menggambarkan tantangan serius dalam menyelaraskan pasokan sumber daya manusia dengan kebutuhan industri yang semakin bergantung pada teknologi.

Mayoritas pelamar berasal dari latar belakang ekonomi dan manajemen, padahal BI membutuhkan kompetensi khusus di bidang data science, kecerdasan buatan, dan analitik data. Gubernur BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa kekurangan talenta teknologi bukan hanya persoalan jumlah, tetapi juga kualitas dan kesiapan kompetensi di tingkat pendidikan.

Ia menekankan perlunya transformasi struktur pendidikan nasional, terutama dalam penguatan pendidikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM). Menurutnya, minat generasi muda terhadap jalur ilmu STEM terus menurun, yang berpotensi memperlebar kesenjangan antara permintaan pasar terhadap tenaga ahli teknologi tinggi dan pasokan SDM yang tersedia.

Untuk mengatasi hal ini, BI akan memprioritaskan pelamar dengan latar belakang ilmu pengetahuan alam (IPA) dalam proses rekrutmen ke depan. Dengan demikian, peran pendidikan dan pelatihan digital bagi pegawai BI terus diperkuat. Saat ini, sekitar 330 pegawai sedang menjalani pendidikan lanjutan, sementara sekitar 800 talenta telah dibina sebelumnya untuk memperkuat kapasitas digital institusi.

Destry menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak bisa diimbangi hanya dengan ketersediaan perangkat. Meskipun hampir seluruh anak muda memiliki lebih dari satu perangkat digital, pemanfaatannya masih terbatas pada aktivitas konsumtif. Meningkatkan literasi teknologi menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga kontributor inovasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya