Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Minyak Dunia Melonjak Setelah Ketegangan AS-Iran Meningkat

Harga minyak dunia naik ke level US$91,05 per barel akibat meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 10.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Harga Minyak Dunia Melonjak Setelah Ketegangan AS-Iran Meningkat📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Harga minyak dunia mencapai titik tertinggi baru pada Selasa (1/9), menembus angka US$91,05 per barel untuk minyak Brent, didorong oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam serangan lebih lanjut terhadap Iran, menyusul serangan balasan dari Teheran yang terjadi pada Minggu (30/8). Aksi saling serang tersebut menjadi yang pertama dalam sebulan terakhir, memperburuk prospek stabilitas pasar energi global.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat signifikan, mencapai US$86,59 per barel, naik 1 persen dari perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan sentimen pasar yang semakin waspada terhadap potensi gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk. Sebelumnya, harga Brent telah melonjak 2,7 persen dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 25 Agustus, sementara WTI mencatat kenaikan 2,8 persen dan menyentuh puncak sejak 21 Agustus.

Kekhawatiran terhadap jalur perdagangan minyak terutama terfokus pada Selat Hormuz, yang menjadi jalur kunci bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global. Data dari Kpler menunjukkan jumlah kapal komoditas yang melintasi selat turun drastis menjadi hanya lima kapal per hari pada akhir pekan. Iran telah menutup akses selat sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari, dan kini ancaman terhadap pelayaran kembali muncul setelah sebuah kapal tanker dilaporkan terkena tiga proyektil saat berlayar keluar dari wilayah tersebut. Tidak ada korban jiwa atau kerusakan lingkungan yang dilaporkan.

Upaya mediasi oleh negara-negara seperti Qatar dan Oman untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz belum menunjukkan hasil konkret. Di sisi lain, pasar juga memperhatikan kebijakan energi baru terkait Venezuela, di mana Trump mengumumkan kesepakatan untuk mengelola cadangan minyak negara tersebut. Minyak dari Venezuela direncanakan digunakan untuk mengisi kembali cadangan strategis AS—yang kini berada di level terendah dalam 44 tahun. Perusahaan energi global seperti Chevron, GE Vernova, ONGC, Eni, dan GeoPark dikabarkan sedang dalam tahap finalisasi kesepakatan proyek energi di negara tersebut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya