Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Minyak Dunia Terkoreksi di Bawah US$110 Imbas Kebijakan AS dan Ancaman di Timur Tengah

Harga minyak dunia turun ke level US$109,06 per barel akibat kebijakan eksplisit AS terhadap Rusia dan ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasokan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 12.19 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 39x dibuka
Harga Minyak Dunia Terkoreksi di Bawah US$110 Imbas Kebijakan AS dan Ancaman di Timur Tengah📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa pagi, menyentuh level US$109,06 per barel untuk kontrak minyak Brent. Penurunan ini terjadi seiring pasar menanggapi kebijakan terbaru yang dikeluarkan oleh otoritas Amerika Serikat terkait pengecualian sanksi terhadap ekspor energi Rusia. Meski belum menjadi keputusan final, perintah eksekutif yang diterbitkan pada Jumat malam menimbulkan ketidakpastian di pasar, terutama mengenai bea masuk dan sanksi terhadap entitas yang bertransaksi dengan energi Rusia.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November juga melemah, mencapai US$103,32 per barel, sementara kontrak Desember yang lebih aktif turun menjadi US$98,08 per barel. Penurunan ini terjadi meskipun harga Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak 20 Mei, yakni US$110,70, sebelum kembali tertekan. Peningkatan produksi minyak Rusia sebesar 65 ribu barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari, menurut data IEA, tetap berada di bawah tingkat produksi tahun sebelumnya sekitar 870 ribu barel per hari.

Kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dari Timur Tengah menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan harga. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang fasilitas energi, bandara, dan militer di Arab Saudi, termasuk lokasi strategis seperti Aramco di Yanbu, ladang Shaybah, serta dua bandara utama di Riyadh dan Abha. Meskipun otoritas Saudi belum mengonfirmasi klaim tersebut, ancaman serangan terus memperbesar risiko gangguan pasokan di kawasan yang menjadi tulang punggung ekspor minyak global.

Serangan juga terjadi di Yaman, di mana 58 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka akibat serangan terhadap kamp pelatihan pasukan keamanan di Provinsi Shabwa. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat mengganggu jalur distribusi energi. Analis dari KCM Trade, Tim Waterer, menekankan bahwa pasar lebih peka terhadap ancaman infrastruktur energi di Teluk dibandingkan potensi pasokan tambahan diesel dari Rusia, yang secara teori bisa menstabilkan harga.

Di sisi lain, data awal dari Reuters menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat pada pekan lalu, sementara persediaan produk minyak juga diperkirakan mengalami penurunan. Kombinasi antara ketegangan geopolitik, fluktuasi kebijakan energi AS, dan tren penurunan stok domestik menjaga harga minyak tetap berada di atas ambang US$100 per barel, menunjukkan ketahanan pasar terhadap tekanan jangka pendek.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya