Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Minyak Mentah Indonesia Tembus US$106 per Barel

Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) menyentuh level US$106 per barel, meski rata-rata tahun ini masih di kisaran US$91–US$92, dengan dampak pada perhitungan APBN dan pasokan BBM nasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 23.15 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 38x dibuka
Harga Minyak Mentah Indonesia Tembus US$106 per Barel📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) telah melampaui ambang batas US$100 per barel, mencapai angka tertinggi sebesar US$106 dalam periode terkini. Angka ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, dalam pertemuan setelah rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan. Ia menegaskan bahwa fluktuasi harga global tetap menjadi tantangan, namun kondisi terkini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan rata-rata tahunan.

Secara keseluruhan, rata-rata ICP dari awal tahun hingga Oktober 2024 berada di kisaran US$91 hingga US$92 per barel, meski pada bulan September lalu mencapai level tertinggi sebesar US$112,81 per barel. Angka ini menjadi salah satu asumsi makro penting dalam penyusunan anggaran negara, terutama dalam perhitungan penerimaan dari sektor hulu migas serta alokasi subsidi energi. Pergerakan ICP juga berdampak langsung pada penyesuaian harga BBM non-subsidi di pasar.

Dalam upaya menjaga stabilitas pasokan, cadangan nasional bahan bakar minyak (BBM) jenis RON 90 atau Pertalite saat ini berada pada rentang 16 hingga 20 hari. Sementara cadangan BBM lainnya berada di atas 20 hari, sesuai standar operasional. Untuk wilayah Bali yang sempat mengalami keterlambatan pasokan akibat keterlambatan kapal dari Jawa, Bahlil telah memerintahkan operator untuk meningkatkan cadangan dari 11–12 hari menjadi 15 hari dalam satu minggu ke depan.

Tujuan utama dari peningkatan cadangan tersebut adalah menyesuaikan dengan standar nasional agar ketahanan energi tetap terjaga. Ia menyoroti bahwa kendala utama pada periode lalu disebabkan oleh keterlambatan kapal pengangkut, yang berdampak pada distribusi BBM di pulau tersebut. Dengan penyesuaian ini, diharapkan distribusi BBM di wilayah strategis dapat lebih stabil dan responsif terhadap fluktuasi pasokan global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya