Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Telur di Papua Capai Rp60 Ribu, Zulhas Soroti Kesenjangan Pangan

Menteri Pangan Zulkifli Hasan soroti disparitas harga telur antarwilayah, dengan harga di Papua mencapai Rp60 ribu per kg, dua kali lipat Jakarta, dan tekankan pentingnya kemandirian pangan berbasis wilayah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 22.25 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Harga Telur di Papua Capai Rp60 Ribu, Zulhas Soroti Kesenjangan Pangan
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kesenjangan harga pangan antarwilayah Indonesia masih menunjukkan ketimpangan signifikan, sebagaimana diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Ia menyebut harga telur di Papua dan Maluku bisa mencapai Rp60 ribu per kilogram, jauh melampaui harga di Jakarta yang berada di kisaran Rp28 ribu per kg. Angka ini menjadi cerminan dari tantangan distribusi dan akses pangan yang tidak merata di wilayah timur Indonesia.

Zulhas menekankan bahwa perbedaan harga tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan dan gizi masyarakat di daerah dengan pendapatan rata-rata lebih rendah. Dengan harga pangan yang lebih tinggi, warga di Papua dan Maluku berisiko mengalami keterbatasan akses terhadap pangan bergizi, yang berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dalam jangka panjang. Ia menilai kondisi ini tidak sejalan dengan prinsip keadilan dan kesatuan nasional.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah tengah mendorong kemandirian pangan berbasis wilayah. Salah satu langkah strategis adalah pembangunan kawasan Wanam di Merauke sebagai food estate nasional. Proyek ini ditujukan untuk meningkatkan produksi pangan lokal, khususnya beras, sehingga kebutuhan pangan Papua tidak lagi bergantung pada impor dari daerah lain.

Dengan optimalisasi kawasan Wanam, pemerintah berharap produksi pangan dapat mencukupi kebutuhan dalam negeri, bahkan melampaui kebutuhan lokal. Jika berjalan sesuai rencana, surplus hasil pertanian dari Merauke diharapkan mampu memasok wilayah Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Langkah ini diharapkan menstabilkan harga dan memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

Zulhas menegaskan bahwa kemandirian pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal kesadaran kolektif sebagai satu bangsa. Ia menekankan bahwa wilayah timur bukan hanya bagian dari Indonesia, tetapi juga keluarga yang perlu diperhatikan secara merata. Dengan membangun sistem pangan yang berkelanjutan di seluruh wilayah, Indonesia dapat menghindari ketergantungan berlebihan terhadap impor pangan dalam jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya