Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Hercules Tuntut Pembatalan Sertifikat dan Restitusi Lahan Summarecon

Ketua GRIB Jaya mendatangi Kementerian ATR/BPN untuk menuntut pembatalan sertifikat Arjuna Bowling dan pengembalian status hak milik atas lahan 65 hektare milik ahli waris Summarecon.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 09.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 67x dibuka
Hercules Tuntut Pembatalan Sertifikat dan Restitusi Lahan Summarecon📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, Hercules Rosario de Marshal, secara langsung mengunjungi kantor Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) pada Senin (19/10) untuk menuntut penyelesaian dua kasus sengketa lahan yang menurutnya telah mengalami kelalaian administratif dan ketidakadilan hukum. Ia menyoroti ketidakhadiran Menteri ATR Nusron Wahid, yang saat itu sedang dipanggil KPK, dan menilai kepemimpinan kementerian dinilai tidak responsif terhadap tuntutan masyarakat yang berbasis pada bukti hukum.

Hercules menyampaikan dua tuntutan utama kepada perwakilan kementerian: pertama, pembatalan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) atas lahan Arjuna Bowling di Jakarta Barat; kedua, pengembalian status hak milik atas lahan seluas 65 hektare yang saat ini berstatus HGB milik PT Summarecon, yang menurutnya seharusnya kembali ke ahli waris sebagai hak milik semula. Ia menegaskan bahwa tuntutan ini didukung oleh dokumen dan bukti hukum yang sah dan telah dipersiapkan secara matang.

Ia mengkritik sistem pelayanan kementerian yang dinilai membedakan antara pengunjung berdasarkan alat bukti dan uang, bukan berdasarkan keabsahan legalitas. Menurut Hercules, masyarakat yang datang membawa dokumen resmi sering kali tidak mendapatkan pelayanan maksimal, sementara mereka yang datang dengan pendekatan tidak sesuai aturan justru mendapat perlakuan istimewa. Ia menilai fenomena ini telah merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Hercules menegaskan bahwa kunjungannya bukan sekadar aksi politik, melainkan bentuk keberanian masyarakat untuk menuntut keadilan setelah menunggu lama tanpa hasil. Ia menekankan bahwa tuntutan ini bukan hasil dari kepentingan pribadi, melainkan upaya untuk memperbaiki sistem yang dinilai telah mengabaikan hak-hak yang telah dijamin oleh hukum. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa kehadirannya hari ini adalah bentuk keberanian publik yang sudah tidak sabar lagi menunggu keadilan yang sebenar-benarnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya