Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Honda Percepat Efisiensi, Tekan Biaya Rp158 Triliun dalam Empat Tahun

Honda menargetkan penghematan biaya hingga US$9 miliar dalam empat tahun ke depan dengan pemangkasan drastis pada komponen dan pemasok, di tengah tekanan dari merek mobil listrik asal China.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 07.41 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Honda Percepat Efisiensi, Tekan Biaya Rp158 Triliun dalam Empat Tahun
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Honda mengambil langkah strategis menyelamatkan bisnis mobilnya dengan menetapkan target penghematan biaya mencapai lebih dari US$9 miliar—setara sekitar Rp158,7 triliun—dalam empat tahun mendatang. Langkah ini menjadi respons terhadap dominasi produsen mobil listrik asal Tiongkok yang semakin menguasai pasar di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Eropa, dengan harga kompetitif serta teknologi baterai dan perangkat lunak unggulan. Perusahaan kini berupaya memperbaiki kinerja operasional yang sebelumnya menunjukkan kerugian tahunan pertama sebagai perusahaan publik pada Mei lalu.

Untuk mencapai target, Honda menginstruksikan pemasok utama untuk meninjau ulang struktur biaya dan mengurangi harga secara signifikan. Fokus utama diberikan pada tiga kategori komponen kritis: pres dan tempa, komponen elektrikal, serta sistem kendaraan berbasis perangkat lunak (software-defined vehicle/SDV). Dalam pertemuan musim semi di Utsunomiya, Jepang, manajemen menargetkan pemangkasan biaya hingga 30 persen pada ketiga komponen tersebut. Pemasok diminta memperluas penggunaan komponen standar dari pemasok tingkat kedua dan ketiga, termasuk dari China, guna meningkatkan efisiensi rantai pasok.

Komitmen penghematan tidak hanya berfokus pada biaya produksi, tetapi juga pada inovasi bersama. Pada awal Agustus, Honda dan Nissan mengumumkan kerja sama pengembangan unit kontrol elektronik standar untuk kendaraan berbasis perangkat lunak, dengan rencana meluncurkan arsitektur tersebut mulai tahun fiskal 2029. Kolaborasi ini tetap berjalan meski rencana merger keduanya dibatalkan tahun lalu. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menyelaraskan investasi riset dan pengembangan di tengah tekanan biaya tenaga kerja yang meningkat serta kebijakan tarif impor dari AS.

CEO Honda, Toshihiro Mibe, berhasil mempertahankan posisinya di dewan direksi setelah mendapatkan dukungan kuat dari pemegang saham pada Juni, di tengah kritik dari mantan eksekutif terkait kinerja perusahaan. Dengan tekanan dari persaingan global, kenaikan biaya operasional, dan kebutuhan investasi besar dalam teknologi, sumber internal menyebut bahwa situasi saat ini tidak memungkinkan penundaan. Target penghematan 2030 sebesar 1,5 triliun yen (sekitar Rp169,2 triliun) menjadi bagian dari rencana transformasi jangka panjang yang harus dijalankan tanpa kompromi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya