Senin, 5 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Akhir Sesi I Naik Tipis ke Level 6.038

Indeks saham acuan berakhir di zona hijau pada sesi pertama perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, dengan kenaikan 2,10 poin atau 0,03% ke level 6.038,99.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 15.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Akhir Sesi I Naik Tipis ke Level 6.038📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup sesi pertama perdagangan Senin, 5 Oktober 2026, dalam posisi menguat tipis, berada di level 6.038,99. Pergerakan indeks terpantau fluktuatif sepanjang pagi, dimulai dari level 6.055,16 pada pembukaan pasar. IHSG sempat mencapai puncak harian di 6.085,45 pada awal perdagangan, namun kemudian mengalami tekanan jual yang menurunkan indeks hingga menyentuh titik terendah di 6.019,84 menjelang pukul 11.00 WIB. Di akhir sesi, indeks kembali rebound dan bergerak mendatar di kisaran 6.040-an, menunjukkan kekuatan pemulihan pasar.

Penguatan indeks didukung oleh sektor infrastruktur yang mampu menunjukkan kenaikan sebesar 2,3%, diikuti oleh sektor properti dengan kenaikan 0,8% dan sektor konsumer non kritikal yang naik 0,4%. Beberapa emiten unggulan turut menjadi penopang, seperti Bank Mandiri (BMRI), Barito Renewables Energy (BREN), Astra International (ASII), Barito Pacific (BRPT), serta Bumi Resources Minerals (BRMS). Di sisi lain, saham-saham yang menekan indeks antara lain DCI Indonesia (DCII), Amman Mineral Internasional (AMMN), Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ), Capital Financial Indonesia (CASA), dan Mora Telematika Indonesia (MORA).

Volume perdagangan mencatat sebanyak 208,59 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp4,845 triliun, menunjukkan aktivitas pasar yang cukup aktif meski fluktuatif. Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu mempertahankan konsistensi pergerakan positif sepanjang pekan ini, 5–9 Oktober 2026, setelah sebelumnya mengalami volatilitas tinggi pada akhir pekan lalu. Kebangkitan rupiah dan IHSG dari tekanan akhir pekan sebelumnya menjadi indikator positif bagi sentimen pasar.

Pergerakan pasar akan terus dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, terutama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta situasi di Selat Hormuz. Harga minyak dunia pasca pertemuan OPEC dan negara produsen non-OPEC juga menjadi perhatian utama, karena berdampak langsung pada inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter global. Di sisi lain, pergerakan pasar obligasi tetap menjadi sorotan, mengingat kenaikan imbal hasil di sejumlah negara maju yang berpotensi mengurangi minat terhadap aset berisiko.

Pasar juga akan menanti rilis data ekonomi penting dalam pekan ini, termasuk aktivitas sektor jasa di AS, notulen pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), serta data inflasi produsen di Zona Euro yang dapat menggambarkan tekanan biaya produksi. Di dalam negeri, data cadangan devisa, tingkat keyakinan konsumen, dan pertumbuhan penjualan ritel menjadi kunci penentu sentimen pasar. Sementara itu, kalender ekonomi China relatif sepi karena libur Golden Week masih berlangsung hingga pertengahan pekan, sehingga dampaknya terbatas terhadap volatilitas pasar global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya