Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melaju, Kinerja Emiten dan Ekspansi Energi Jadi Pemicu

Indeks harga saham naik 0,94% ke level 5.328, didorong penguatan sektor kesehatan dan saham kapital besar, sementara kinerja emiten seperti IPCC, PGEO, dan DMAS mencatat perkembangan signifikan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 12.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 46x dibuka
IHSG Melaju, Kinerja Emiten dan Ekspansi Energi Jadi Pemicu📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu, 21 Oktober, dengan penguatan sebesar 0,94% ke posisi 5.328,36, menunjukkan momentum positif di pasar modal domestik. Kenaikan ini didukung oleh kenaikan signifikan emiten kapitalisasi besar seperti BBCA yang melonjak 1,44%, BREN yang naik 8,00%, serta TLKM yang menguat 2,91%. Di sisi lain, saham MORA, EMAS, dan ENRG menjadi penekan pasar dengan penurunan masing-masing 6,19%, 5,47%, dan 6,36%. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp527,80 miliar di pasar reguler dan Rp70,71 miliar di seluruh pasar, menunjukkan kecenderungan aksi profit taking.

Dari total 11 sektor yang diperdagangkan, sembilan di antaranya berakhir di zona hijau. Sektor kesehatan menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 3,35%, sementara sektor teknologi mengalami penurunan paling dalam, yaitu 1,12%. Sentimen positif juga terlihat dari pasar saham global, terutama bursa Amerika Serikat yang menguat, dengan Dow Jones naik 0,69%, S&P 500 menguat 0,58%, dan Nasdaq melonjak 1,05%. Penguatan IHSG juga didukung oleh rebound saham perbankan dan telekomunikasi, termasuk aksi pembelian kembali saham yang menarik perhatian pasar.

Di tingkat emiten, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) melaporkan pertumbuhan trafik kargo konsolidasi sebesar 19,57% secara tahunan hingga semester pertama 2026, mencapai 1,37 juta unit, didorong oleh kenaikan kunjungan kapal sebesar 14,87% menjadi 2.958 kunjungan. Peningkatan ini sebagian besar berasal dari segmen truk dan bus yang tumbuh 43,98%, serta kendaraan roda dua yang melonjak 51,46%. Namun, pertumbuhan volume belum berdampak signifikan pada kinerja keuangan karena sebagian besar berasal dari tarif rendah, sementara segmen kendaraan utuh (CBU) hanya tumbuh 0,95%. Akibatnya, pendapatan IPCC turun 0,49% menjadi Rp413,50 miliar, sedangkan laba bersih menyusut 9,28% menjadi Rp103,28 miliar.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menetapkan target kapasitas pembangkit panas bumi mencapai 1,8 gigawatt (GW) pada 2034, meningkat dari kapasitas saat ini sebesar 727 megawatt (MW). Target 1 GW akan tercapai pada 2028. Untuk menambah 1.073 MW hingga 2034, diperlukan pendanaan sebesar USD 6,43 miliar (sekitar Rp115,92 triliun), dengan biaya per MW berkisar antara USD 5 juta hingga 6 juta. Pendanaan akan berasal dari modal internal, sisa hasil IPO, green financing, dan penerbitan green bond. PGEO juga mempertimbangkan skema joint venture bersama PLN untuk membagi risiko dan alokasi investasi. Proyek seperti pemanfaatan air panas di Ulubelu (30 MW) dan PLTP Lumut Balai Unit 3, yang diharapkan beroperasi komersial pada 2029, menjadi bagian dari rencana pengembangan.

Sementara itu, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menetapkan pembagian dividen tunai interim untuk tahun buku 2026 sebesar Rp29 per saham, senilai total Rp1,40 triliun. Pembagian ini didasarkan pada laba bersih sebesar Rp1,49 triliun hingga sembilan bulan pertama 2026, meningkat 183,81% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dividen interim ini setara dengan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) sebesar 93,81%. Pada perdagangan hari itu, saham DMAS ditutup di Rp208 per saham, mencerminkan yield dividen sebesar 13,94%. Tanggal cum date dividen ditetapkan pada 28 Oktober 2026, dengan pembayaran dijadwalkan pada 13 November 2026.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya