Rabu, 30 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Menguat 1% di Awal Sesi, Didorong Sektor Energi dan BUMN

Indeks Harga Saham Gabungan naik 1,04% ke level 6.185,37 pada awal perdagangan, dipimpin penguatan sektor energi, material dasar, dan utilities, serta pergerakan saham BUMN kunci.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 30 September 2026, 12.08 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Menguat 1% di Awal Sesi, Didorong Sektor Energi dan BUMN📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan kenaikan signifikan pada sesi perdagangan pagi hari ini, Rabu (30/9/2026), dengan mencatat penguatan 1,04% atau sebesar 64,32 poin. Pada pukul 09.30 WIB, indeks berada di posisi 6.185,37, setelah sempat membuka perdagangan di level 6.118,05—angka terendah harian. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya aktivitas pasar, dengan nilai transaksi mencapai Rp2,59 triliun pada pukul 09.45 WIB, dari sebelumnya Rp2,02 triliun pada pukul 09.31 WIB. Volume perdagangan juga melonjak menjadi 89,42 juta lot, menunjukkan minat investor yang terus tumbuh.

Penguatan IHSG didorong oleh tiga sektor utama: utilities yang melonjak 1,8%, material dasar naik 1,8%, serta energi menguat 1,5%. Di tengah kenaikan tersebut, beberapa emiten menjadi pendorong utama, termasuk PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Mora Telematika Indonesia (MORA), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Amman Mineral Internasional (AMMN), dan PT United Tractors (UNTR). Di sisi lain, saham-saham seperti GoTo (GOTO), Fortune Indonesia (FORU), Telkom (TLKM), VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR), dan MNC Digital (MSIN) menjadi tekanan terhadap pergerakan indeks.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, khususnya pergerakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent turun 2,6% menjadi US$102,59 per barel, sedangkan WTI merosot 3,5% ke US$89,38 per barel, seiring pemulihan ekspor minyak dari Timur Tengah yang mengurangi kekhawatiran pasokan akibat ketegangan geopolitik. Meski melemah, kedua komoditas ini masih berada dalam tren kenaikan bulanan, masing-masing sekitar 13% untuk Brent dan 4% untuk WTI.

Di sisi kebijakan, pernyataan pejabat Federal Reserve New York, John Williams, yang menyebut bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk menilai data ekonomi sebelum memutuskan kenaikan suku bunga, turut menenangkan pasar. Meski demikian, kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir 2026 tetap terbuka. Di dalam negeri, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan bahwa fluktuasi IHSG dan nilai tukar rupiah perlu dilihat dalam kerangka jangka menengah. Pemerintah dan Bank Indonesia terus memantau dinamika pasar, sementara transaksi short selling di BEI telah kembali berjalan sejak 15 September 2026.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya