Kamis, 17 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Menguat di Awal Perdagangan Meski Tekanan Global Meningkat

Indeks Harga Saham Gabungan dibuka menguat 0,27% pada Kamis (17/9/2026), bergerak di kisaran 6.454 hingga 6.460, meski dihadapkan pada tekanan dari kenaikan suku bunga AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 17 September 2026, 11.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Menguat di Awal Perdagangan Meski Tekanan Global Meningkat📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan hari ini dengan penguatan signifikan, mencatatkan level 6.455,03 pada awal sesi, naik dari penutupan sebelumnya di 6.436,85. Pada pukul 09.00 WIB, indeks terus melanjutkan kenaikan hingga mencapai 0,6% atau berada di posisi 6.454,45, sementara pergerakan harian sempat menyentuh level tertinggi 6.460,57 dan terendah 6.452,96. Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya IHSG mengalami penurunan 0,38% pada perdagangan Rabu (16/9/2026), yang diikuti koreksi dari penguatan awal di atas 1%.

Kondisi pasar terlihat bervariasi, dengan 199 saham menguat, 150 saham melemah, dan 614 saham tidak bergerak. Volume perdagangan mencapai 398,8 juta saham dengan nilai transaksi sebesar Rp188,5 miliar dan frekuensi transaksi sebanyak 31.180 kali. Meski ada penguatan, pasar tetap dihadapkan pada tekanan sentimen global yang berat, terutama menyusul keputusan The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, menjadikannya 3,75%-4%. Keputusan ini menggambarkan komitmen bank sentral AS menahan inflasi yang masih tinggi.

Lonjakan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke level 5,004%—tertinggi sejak Juli 2007—dan kenaikan indeks dolar AS ke level 100,252, tertinggi sejak 12 Agustus 2026, menjadi faktor utama yang mengganggu stabilitas pasar keuangan negara berkembang. Kenaikan tersebut meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS, berpotensi memicu aliran modal keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia. Di sisi lain, konflik di Timur Tengah yang memburuk, terutama dengan keberhasilan kelompok Houthi menguasai wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb, memperburuk ekspektasi risiko pasokan energi global.

Perkembangan ini menambah tekanan inflasi global dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak, yang dapat memperlemah daya beli dan memperbesar beban defisit perdagangan bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia. Di tengah tekanan eksternal, pasar juga memantau isu domestik, termasuk penerapan PPh atas transaksi online melalui marketplace mulai 1 Oktober 2026 dan langkah OJK dalam menegakkan aturan pasar modal. Selain itu, investor menantikan rilis data ekonomi kunci global seperti klaim pengangguran AS, inflasi Zona Euro Agustus 2026, dan keputusan suku bunga Bank of England.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya