Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Menguat di Pembukaan, Pasar Pantau Keputusan BI

Indeks Harga Saham Gabungan dibuka menguat 0,33% ke level 6.297, didukung sentimen pasar yang menanti keputusan suku bunga BI dan dinamika global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 23 September 2026, 12.04 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
IHSG Menguat di Pembukaan, Pasar Pantau Keputusan BI📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Rabu (23/9/2026), mencatat kenaikan 20,91 poin atau 0,33% ke posisi 6.297,95. Pergerakan awal ini ditopang oleh kenaikan indeks hingga 0,61% dalam beberapa menit pertama, meskipun sempat berada dalam rentang 6.297 hingga 6.315. Pergerakan ini tercermin dari sebanyak 222 saham menguat, 89 saham melemah, dan 323 saham stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp94,34 miliar dan volume perdagangan sebesar 175,62 juta lembar saham yang diperdagangkan dalam 22.137 transaksi.

Pasar mengantisipasi pengumuman keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang akan disampaikan pada hari yang sama, setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) berlangsung selama dua hari. Keputusan ini menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti sebagai Gubernur BI definitif sejak dilantik pada 2 September. Dalam konteks global, sejumlah bank sentral, termasuk The Fed dan Bank of Japan, telah menaikkan suku bunga, menambah ketegangan terhadap pasar keuangan berkembang. Hasil polling terhadap 11 institusi menunjukkan dominasi prediksi pemertahanan suku bunga BI di level 5,75%, meski tiga lembaga memperkirakan kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%.

Inflasi bulan Agustus tercatat sebesar 3,19% secara tahunan, naik dari 2,88% pada Juli, dan masih berada dalam target BI sebesar 1,5%-3,5%. Dalam pertemuan RDG Agustus, Destry sebelumnya menekankan pentingnya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketegangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah. BI juga menekankan keseimbangan antara target inflasi 2,5±1% untuk 2026 dan 2027 serta pertumbuhan ekonomi dalam merumuskan kebijakan moneter.

Di sisi lain, pasar komoditas menunjukkan tekanan berkelanjutan, dengan harga minyak mentah Brent turun ke bawah US$ 100 untuk pertama kalinya sejak 8 September 2029, mencapai US$ 99,25 per barel, sementara minyak WTI turun 1,3% ke US$ 94,5 per barel. Dalam lima hari terakhir, harga minyak turun hingga 8,7% untuk Brent dan 10,6% untuk WTI. Meski demikian, penguatan indeks dolar dan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) ke level 4,967% menjadi tantangan bagi rupiah, yang pada Selasa (22/9/2026) melemah ke Rp17.850 per dolar AS. Kondisi ini berpotensi memicu aliran modal keluar dan menekan nilai tukar rupiah lebih lanjut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya