Balpres Ilegal Masih Menyusup Lewat Jalur Rawan
Kementerian Keuangan mengakui sulit menghentikan aliran balpres ilegal karena keterbatasan sumber daya dan geografis Indonesia yang kompleks, meski operasi penindakan terus diperkuat.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 23 September 2026, 12.06 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menegaskan bahwa upaya pencegahan masuknya barang bekas impor ilegal belum sepenuhnya berhasil, meski telah dilakukan berbagai operasi penegakan hukum secara intensif. Kondisi wilayah Indonesia yang luas dan beragam jalur perbatasan, termasuk perairan strategis seperti Selat Malaka serta perbatasan Kalimantan, menjadi tantangan utama dalam pengawasan. Titik-titik tersebut kerap dimanfaatkan oleh pelaku penyelundupan untuk menyelundupkan barang ilegal secara terus-menerus.
Keterbatasan personel dan infrastruktur pengawasan di wilayah perbatasan menjadi faktor penentu dalam menekan efektivitas penjagaan. Djaka Budi Utama, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, menyampaikan bahwa pemantauan di seluruh titik masuk belum bisa dilakukan secara optimal karena keterbatasan sumber daya manusia dan teknologi. Hal ini justru memberi celah bagi pelaku kejahatan untuk mengelabui sistem pengawasan, terutama di daerah yang minim akses dan fasilitas.
Menurut Djaka, permintaan masyarakat terhadap pakaian bekas impor tetap tinggi, menjadi akar dari persistensi praktik penyelundupan. Ia menyebut bahwa selama pasar masih menyerap barang tersebut, maka aktivitas ilegal akan terus muncul. “Ini seperti main kucing-kucingan—kami bergerak, mereka bersembunyi, lalu muncul lagi di titik lain,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan balpres ilegal tidak hanya soal penegakan hukum, tetapi juga perlu pendekatan jangka panjang terhadap perilaku konsumsi.
Untuk menanggulangi persoalan tersebut, Bea Cukai akan terus memperkuat kapasitas pengawasan melalui pemanfaatan data intelijen, peningkatan koordinasi lintas daerah, serta optimalisasi peralatan di titik-titik rawan. Upaya ini dilakukan guna mencegah kembali masuknya barang ilegal yang dapat mengganggu pasar domestik dan merugikan industri lokal.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Waspada Modus Pemalsuan SIM, Pemohon Wajib Hadir Langsung
Polri mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap tawaran pembuatan SIM instan tanpa prosedur resmi, seiring pengungkapan sindikat pemalsu 500 SIM di Riau.
23 September 2026

Waspada Modus Penipuan Pembuatan SIM Tanpa Kehadiran
Polri memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap penawaran jasa pembuatan SIM tanpa kehadiran langsung, yang merupakan modus penipuan setelah sindikat pemalsu SIM di Riau berhasil dibongkar.
23 September 2026

Prabowo Perintahkan Pengetatan Pengawasan Perbatasan dan Pesisir
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan peningkatan pengawasan di perbatasan dan pesisir untuk mencegah penyelundupan narkotika dan barang larangan seperti balpres.
23 September 2026

Ratusan Santri Dijemput Orang Tua Usai Dugaan Pelecehan Seksual di Ponpes NTB
Ratusan orang tua santri di Ponpes Abul Barokat Wannafahat, Lombok Tengah, menjemput anak mereka setelah muncul dugaan kekerasan seksual oleh pimpinan pesantren, dengan sebagian memutuskan anaknya tidak kembali.
23 September 2026
Berita Lainnya

Orang yang Suka Kopi Pahit Tanpa Gula Punya Karakter Khas
Rabu, 23 September 2026, 12.17 WITA

Penjualan Otomotif Melonjak, Menkeu Soroti Resiliensi Ekonomi Nasional
Rabu, 23 September 2026, 12.15 WITA

Investasi Rp1.306 Triliun untuk PLTS 100 GW Ditetapkan sebagai Prioritas Nasional
Rabu, 23 September 2026, 12.06 WITA

Harga BBM Subsidi Tetap Stabil hingga Akhir 2026
Rabu, 23 September 2026, 12.06 WITA

Indonesia Siap Jadi Pusat Data Berbasis Energi Bersih
Rabu, 23 September 2026, 12.05 WITA

Pemerintah Tanggung Pajak Magang, Uang Saku Lulusan Tetap Penuh
Rabu, 23 September 2026, 12.05 WITA

Prabowo Janji Pendidikan Negeri Gratis, Dana dari Aset Koruptor
Rabu, 23 September 2026, 12.05 WITA

Cadangan BBM Nasional Tetap Aman di Angka 18–21 Hari
Rabu, 23 September 2026, 12.05 WITA

