Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terkoreksi 1,20% ke Level 6.298 Akibat Tekanan Global

Indeks saham domestik turun 76,30 poin atau 1,20% ke posisi 6.298,61 dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga dan inflasi global serta ketegangan geopolitik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 17.58 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 51x dibuka
IHSG Terkoreksi 1,20% ke Level 6.298 Akibat Tekanan Global📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari ini di zona merah, melemah 76,30 poin atau 1,20% ke level 6.298,61. Penurunan ini mencerminkan tekanan dari bursa regional Asia yang juga mengalami koreksi, seiring berlanjutnya ketegangan geopolitik dan kenaikan imbal hasil obligasi AS. Indeks LQ45, yang mengukur kinerja saham unggulan, turun lebih dalam, sebesar 8,68 poin atau 9,92% ke posisi 623,26.

Pengamat pasar menyebut bahwa sentimen negatif berasal dari koreksi di Wall Street dan pasar Eropa, yang terpicu oleh kekhawatiran inflasi global dan ekspektasi The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah, terutama terkait dinamika negosiasi antara AS dan Iran, turut mendorong risiko inflasi yang lebih tinggi. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyerah terhadap tekanan AS, namun tetap terbuka untuk dialog dengan syarat tertentu.

Di sisi lain, pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington menjadi perhatian pasar. Meskipun AS menyatakan kesepakatan memperpanjang gencatan senjata perdagangan hingga 10 Januari 2026, China belum secara resmi mengonfirmasi perpanjangan tersebut. Keterbukaan terhadap isu-isu strategis seperti kecerdasan buatan, Taiwan, dan hubungan ekonomi bilateral tetap menjadi fokus utama, meski ekspektasi terhadap hasil pertemuan tetap moderat.

Dalam negeri, kondisi ekonomi tetap rentan. Meskipun Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada September 2026, tekanan global tetap menghantui, termasuk fluktuasi harga minyak, penguatan dolar AS, serta aliran modal asing yang cenderung keluar. Pertumbuhan ekonomi yang melambat, penurunan belanja masyarakat, serta pelemahan rupiah menjadi tantangan tambahan yang mengurangi optimisme pasar.

Seluruh sektor di bursa Indonesia mengalami penurunan, dengan sektor barang baku menjadi yang paling terdampak, turun 2,00%. Sektor industri dan properti turut melemah masing-masing 1,93% dan 1,62%. Dari sisi saham, BIPP, UNSP, WAPO, FORU, dan ASLI menjadi penguat terbesar, sementara MSIN, SAFE, SDMU, NASI, dan MNCN menjadi yang paling terpuruk. Total transaksi mencapai 1,62 juta kali dengan volume 26,71 miliar lembar saham senilai Rp11,21 triliun, di mana 198 saham naik, 487 turun, dan 278 tidak bergerak.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya