IHSG Terkoreksi Meski Awalnya Menguat, Tekanan dari Investor Asing
IHSG berakhir melemah 0,38% ke level 6.436,85 setelah sempat menguat 1,02%, didorong aksi jual asing terhadap saham perbankan besar yang menyumbang 55% dari total penjualan asing.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 17 September 2026, 11.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu (16/9/2026) dengan penurunan 0,38%, menandai kegagalan mempertahankan kenaikan awal yang sempat mencapai 1,02% pada pukul 09.32 WIB. Puncak kenaikan terjadi saat indeks berada di level 6.526,81, namun tekanan menjelang penutupan pasar menghantam sentimen investor. Penyebab utamanya adalah aksi jual besar-besaran dari investor asing yang mencatatkan net sell senilai Rp624,7 miliar di seluruh pasar saham.
Sektor keuangan menjadi pemberat utama kinerja pasar, terkoreksi 0,71% dan menjadi salah satu sektor paling tertekan. Pelemahan ini didorong oleh aksi jual asing yang fokus pada empat bank besar, yakni Bank Mandiri (BMRI), Bank Central Asia (BBCA), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Total penjualan asing pada empat emiten ini mencapai Rp344,6 miliar, menyumbang sekitar 55% dari total net sell asing secara keseluruhan. BMRI menjadi yang paling banyak dilepas dengan nilai penjualan mencapai Rp238,4 miliar.
Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang menguat signifikan, naik 2,54%, disusul sektor barang baku (naik 0,27%) dan kesehatan (naik 0,04%). Namun, penguatan ini tidak mampu mengimbangi tekanan dari sektor keuangan, teknologi (terkoreksi 1,34%), utilitas (melemah 1,82%), dan real estat (turun 0,95%). Secara keseluruhan, mayoritas sektor saham bergerak dalam zona merah, dengan 456 saham mengalami penurunan, 213 saham menguat, dan 294 saham stagnan.
Dalam kondisi ini, beberapa saham masih mampu memberikan kontribusi positif terhadap pergerakan IHSG. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penopang terbesar dengan kontribusi kenaikan sebesar 28,61 poin indeks, diikuti oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan kontribusi 4,48 poin. Saham BBRI juga menyumbang 3,11 poin, meski terdampak aksi jual asing. Sebaliknya, tekanan terbesar berasal dari PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) yang menyumbang penurunan 3,54 poin indeks, disusul BMRI dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) masing-masing memberi kontribusi negatif sebesar 2,61 poin.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

TASPEN Ajak Mahasiswa Siapkan Dana Pensiun Sejak Dini
Kegiatan TASPEN Goes to Campus di USU mengedukasi seribu mahasiswa tentang pentingnya literasi keuangan dan perencanaan pensiun sejak masa produktif.
17 September 2026

Mutasi Pejabat Kemenkeu Dibatalkan Usai Temuan Proses Tak Sesuai
Direktur Jenderal Pajak dan Bea Cukai menolak mutasi yang dilakukan mantan menteri, menilai ada nama-nama tak melalui assessment resmi, dan meminta peninjauan ulang.
17 September 2026

Prabowo Ungkap Kerugian Rp15.000 T Akibat Pemalsuan Ekspor 34 Tahun
Presiden Prabowo menyatakan Indonesia kehilangan US$ 908 miliar atau setara Rp15.000 triliun selama 34 tahun akibat praktik under-invoicing dan transfer pricing dalam ekspor komoditas.
17 September 2026

Kanada Perkuat Kerja Sama Ekonomi dengan RI di Sektor Kritis
Indonesia dan Kanada memperkuat sinergi ekonomi melalui pertemuan tingkat tinggi, fokus pada potash, migas, mineral kritis, dan energi nuklir, seiring berlakunya perjanjian perdagangan komprehensif.
17 September 2026
Berita Lainnya

Waspada Produk Beras Fortifikasi Ilegal
Kamis, 17 September 2026, 11.47 WITA

Lima Spot Mahjong Kekinian di Jakarta untuk Komunitas dan Pemula
Kamis, 17 September 2026, 11.44 WITA

Veloz Hybrid Dorong Penjualan Hybrid Toyota di Jateng dan DIY
Kamis, 17 September 2026, 11.43 WITA

5 Kebiasaan Berbahaya yang Percepat Kerusakan Baterai Mobil Listrik
Kamis, 17 September 2026, 11.43 WITA

AI dan Ancaman Kemanusiaan: Peringatan dari Pelopor Teknologi
Kamis, 17 September 2026, 11.35 WITA

Prabowo: PDB Indonesia Terlalu Rendah, Bisa Naik 40%
Kamis, 17 September 2026, 11.35 WITA

Kenaikan Laba 900% PT Timah Jadi Bukti Efektivitas Penertiban Tambang Ilegal
Kamis, 17 September 2026, 11.34 WITA

Rumah BUMN Pertamina Dorong UMKM Aceh Tamiang dan Timur Berkembang
Kamis, 17 September 2026, 11.33 WITA


