IHSG Terpuruk 1,29% Akibat Tekanan Global
Indeks saham domestik anjlok 86,30 poin ke level 6.591,90 karena tekanan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 19.35 WITA·👁 3 orang membaca· 3 hari ini · 5x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis (10/9/2026), menutup sesi dengan kekalahan 1,29% atau 86,30 poin, berada di posisi 6.591,90. Pergerakan indeks berjalan fluktuatif sepanjang hari, dibuka pada level 6.688,18 dan sempat mencapai puncak 6.712,50 sebelum mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level terendah 6.585,56 sebelum akhirnya ditutup di posisi tersebut. Penutupan ini menandai kembali keberadaan IHSG di bawah ambang psikologis 6.600, setelah sempat mendekati level 6.700 pada awal sesi.
Volume perdagangan mencapai 41,24 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp19,76 triliun dalam 2,52 juta kali transaksi, menunjukkan aktivitas pasar yang cukup tinggi. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 541 saham mengalami pelemahan, 159 menguat, dan 263 stagnan, menggambarkan dominasi tekanan jual di seluruh lini pasar. Sektor energi menjadi yang paling terdampak dengan penurunan 2,21%, disusul kesehatan (-1,69%), industri (-1,53%), bahan baku (-1,22%), dan finansial (-1,18%).
Di sisi lain, sektor properti dan utilitas menjadi yang paling stabil, masing-masing turun hanya 0,07% dan 0,17%. Dari saham-saham penekan utama, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang kontribusi negatif terbesar sebesar 15,52 poin, disusul BYAN (10,40 poin), BBCA (7,04 poin), DSSA (5,02 poin), AMMN (3,58 poin), BMRI (3,47 poin), dan VKTR (3,27 poin). Sementara itu, saham-saham penopang seperti KPIG, CUAN, ASII, UNTR, dan ANTM mampu memberikan kontribusi positif yang menahan tekanan lebih dalam.
Pelemahan IHSG terjadi di tengah gejolak pasar global yang dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah Brent ke level US$101 per barel dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Utang federal AS telah melampaui ambang batas historis, mencapai US$40 triliun, memicu kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal negara. Untuk menstabilkan pasar obligasi, AS melakukan buyback surat utang hingga US$6 miliar—tiga kali lipat dari operasi biasa—dengan fokus pada tenor 10, 20, dan 30 tahun. Namun, respons pasar justru menunjukkan ketidakpercayaan, dengan yield Treasury 10 tahun naik ke 4,84%, 20 tahun mencapai 5,314%, dan 30 tahun menembus 5,3%.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Premi Asuransi Mobil Listrik Lebih Tinggi, Ini Alasannya
Biaya perbaikan dan suku cadang yang mahal menjadi penyebab premi asuransi mobil listrik lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional, sesuai penjelasan dari perusahaan asuransi di tengah penyesuaian tarif.
11 September 2026

Beli iPhone 18 Duo di Luar Negeri? Siapkan Rp66,7 Juta untuk Pajak
Konsumen yang membeli iPhone 18 Duo 2 TB dari AS harus siap membayar bea masuk dan PPN hingga Rp10,5 juta saat masuk ke Indonesia.
11 September 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.570 per Dolar AS
Rupiah dibuka melemah 0,23% ke level Rp17.570/US$ pada awal perdagangan Jumat, dipengaruhi penguatan dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
11 September 2026

Laba TINS Melonjak 805% di Semester I 2026
PT Timah (Persero) Tbk. mencatat laba bersih Rp2,71 triliun pada semester pertama 2026, naik 805% dibanding periode sama tahun sebelumnya, didorong kenaikan harga dan volume penjualan logam timah.
11 September 2026
Berita Lainnya

Cek Tagihan dan Tarif Listrik PLN via HP, Ini Rincian 2026
Jumat, 11 September 2026, 19.46 WITA

Google Maps Dorong Kolaborasi Lokasi Real-Time Tanpa Batas
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia Siapkan Tim Negosiator Unggul untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi 2029
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia dan Rusia Perkuat Hilirisasi Bauksit di Kalimantan
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Operator Kapal Masih Enggan Angkut Mobil Listrik
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

WEY G9 Hi4 Resmi Hadir, Ancam Dominasi Alphard
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Kapolri Ajak Pengusaha Laporkan Premanisme di Kawasan Industri
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA

GWM Perluas Jaringan Diler ke Kota-Kota Strategis
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA


