Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terpuruk 1,7% di Sesi I, Tekanan dari Sektor Tambang dan Geopolitik

Indeks saham utama turun 111,50 poin atau 1,7% ke level 6.429,88 akibat tekanan dari emiten tambang dan sentimen global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 14 September 2026, 15.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Terpuruk 1,7% di Sesi I, Tekanan dari Sektor Tambang dan Geopolitik📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah signifikan pada sesi pertama perdagangan hari ini, Senin (14/9/2026), menunjukkan penurunan 111,50 poin atau 1,70% ke posisi 6.429,88. Pergerakan negatif ini didorong oleh koreksi beruntun pada sejumlah emiten unggulan, terutama di sektor energi yang menyumbang penurunan terbesar sebesar 4,87%. Dari total 963 saham yang diperdagangkan, hanya 153 yang menguat, sementara 542 mengalami pelemahan dan 268 stagnan.

Transaksi pasar reguler mendominasi aktivitas perdagangan dengan volume 170,64 juta lot, nilai transaksi Rp7,83 triliun, dan frekuensi mencapai sekitar 1,19 juta kali. Sementara itu, pasar negosiasi mencatat volume 2,59 juta lot senilai Rp181,37 miliar dengan frekuensi 163 kali. Transaksi di pasar tunai tercatat sangat rendah, hanya 41 lot dengan nilai Rp3,15 juta dan frekuensi lima kali.

Kontributor utama penurunan IHSG berasal dari emiten pertambangan. Bayan Resources (BYAN) turun 35,02% dan menyumbang tekanan indeks sebesar -23,84 poin, diikuti Merdeka Gold Resources (EMAS) dengan kontribusi -10,64 poin. Merdeka Copper Gold (MDKA) dan Bumi Resources (BUMI) masing-masing turut menekan indeks sebesar -5,43 dan -4,69 poin. Selain itu, Bank Mandiri (BMRI) yang melemah 1,61% juga memberikan dampak negatif sebesar -6,08 poin terhadap pergerakan IHSG.

Penurunan IHSG dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia yang melampaui US$100 per barel, serta ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve. Serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan gangguan jalur pelayaran di Teluk menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global, yang berpotensi mengganggu hingga 4% pasokan minyak dunia jika berlanjut. Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan juga memperkuat antisipasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15–16 September 2026, dengan peluang mencapai 87,3% menurut CME FedWatch.

Pergerakan pasar domestik juga dipengaruhi oleh penguatan Wall Street pada akhir pekan lalu, namun investor tetap waspada terhadap perkembangan harga energi dan kebijakan moneter global. Pelaku pasar kini menantikan rilis data ekonomi penting pekan ini, termasuk penjualan ritel China, utang luar negeri Indonesia, serta keputusan suku bunga The Fed dan Bank of Japan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya