Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Tuan Tanah Belanda Kuasai Matraman 41 Tahun

Seorang warga Belanda, J.M.L. Bohl, menguasai lahan Matraman seluas 400 hektare selama 41 tahun sejak 1879 hingga 1920, sebelum meninggal dunia di usia 72 tahun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 14 September 2026, 07.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Tuan Tanah Belanda Kuasai Matraman 41 Tahun📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wilayah Matraman yang kini menjadi pusat aktivitas di Jakarta pernah menjadi wilayah terpisah dari kontrol publik selama lebih dari empat dekade. Penguasaan ini dimulai ketika J.M.L. Bohl, seorang pendatang asal Belanda yang tiba di Batavia pada usia 16 tahun pada tahun 1864, membangun kekayaan dari sektor perdagangan dan kemudian memperluas dominasinya melalui akuisisi tanah. Berdasarkan catatan arsip kolonial, Bohl secara resmi menjadi pemilik tanah besar di Matraman dan Sinajan, kawasan yang kini berada di sekitar Paal Merah.

Pada tahun 1896, menurut direktori Adresboek van Nederlandsch-Indië voor den Handel, Bohl menguasai area seluas 502 bau—setara dengan sekitar 400 hektare—yang digunakan untuk pengembangan agrikultur, terutama produksi padi dan kelapa. Di atas tanah tersebut, ia mendirikan sebuah rumah mewah yang dilengkapi fasilitas eksklusif, termasuk kandang rusa peliharaan yang menjadi simbol kekayaan dan kekuasaan pribadinya di era kolonial.

Kehidupan Bohl dikenal sangat tertutup. Ia jarang terlibat dalam aktivitas sosial publik dan lebih dikenal di kalangan elit kolonial karena posisinya sebagai tuan tanah. Meskipun tidak aktif dalam politik secara luas, ia pernah mencalonkan diri sebagai anggota dewan perwakilan Meester Cornelis (kini Jatinegara) pada 1908, sebagaimana dilaporkan oleh media lokal waktu itu. Ia memilih hidup menyendiri, menjauh dari keramaian, dan menjalani kehidupan yang seolah terpisah dari dinamika sosial masyarakat sekitarnya.

Kepemilikan tanahnya berlangsung hingga 18 Juni 1920, saat ia meninggal dunia di usia 72 tahun setelah menjalani operasi usus buntu di sebuah rumah sakit di Jalan Salemba. Kematian tersebut disertai komplikasi gagal ginjal akut. Berakhirnya kehidupan Bohl juga menandai akhir dari era kepemilikan privat atas tanah Matraman yang telah berlangsung selama 41 tahun. Aset-asetnya kemudian diserahkan kepada pemerintah kolonial, menandai transisi dari dominasi pribadi ke kontrol administratif resmi.

Sejarah Matraman kini telah berubah total dari lahan pertanian menjadi kawasan padat penduduk dan pusat ekonomi. Namun, jejak Bohl tetap tertulis dalam arsip kolonial sebagai sosok yang secara signifikan membentuk lahan tersebut selama masa kejayaannya. Kehidupan pribadinya yang misterius dan kekayaan yang dibangun di atas tanah milik banyak orang tetap menjadi bagian penting dalam narasi sejarah perkotaan Jakarta.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya