Tuan Tanah Belanda Kuasai Matraman 41 Tahun
Seorang warga Belanda, J.M.L. Bohl, menguasai lahan Matraman seluas 400 hektare selama 41 tahun sejak 1879 hingga 1920, sebelum meninggal dunia di usia 72 tahun.
Redaksi iNarasikita·Senin, 14 September 2026, 07.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Wilayah Matraman yang kini menjadi pusat aktivitas di Jakarta pernah menjadi wilayah terpisah dari kontrol publik selama lebih dari empat dekade. Penguasaan ini dimulai ketika J.M.L. Bohl, seorang pendatang asal Belanda yang tiba di Batavia pada usia 16 tahun pada tahun 1864, membangun kekayaan dari sektor perdagangan dan kemudian memperluas dominasinya melalui akuisisi tanah. Berdasarkan catatan arsip kolonial, Bohl secara resmi menjadi pemilik tanah besar di Matraman dan Sinajan, kawasan yang kini berada di sekitar Paal Merah.
Pada tahun 1896, menurut direktori Adresboek van Nederlandsch-Indië voor den Handel, Bohl menguasai area seluas 502 bau—setara dengan sekitar 400 hektare—yang digunakan untuk pengembangan agrikultur, terutama produksi padi dan kelapa. Di atas tanah tersebut, ia mendirikan sebuah rumah mewah yang dilengkapi fasilitas eksklusif, termasuk kandang rusa peliharaan yang menjadi simbol kekayaan dan kekuasaan pribadinya di era kolonial.
Kehidupan Bohl dikenal sangat tertutup. Ia jarang terlibat dalam aktivitas sosial publik dan lebih dikenal di kalangan elit kolonial karena posisinya sebagai tuan tanah. Meskipun tidak aktif dalam politik secara luas, ia pernah mencalonkan diri sebagai anggota dewan perwakilan Meester Cornelis (kini Jatinegara) pada 1908, sebagaimana dilaporkan oleh media lokal waktu itu. Ia memilih hidup menyendiri, menjauh dari keramaian, dan menjalani kehidupan yang seolah terpisah dari dinamika sosial masyarakat sekitarnya.
Kepemilikan tanahnya berlangsung hingga 18 Juni 1920, saat ia meninggal dunia di usia 72 tahun setelah menjalani operasi usus buntu di sebuah rumah sakit di Jalan Salemba. Kematian tersebut disertai komplikasi gagal ginjal akut. Berakhirnya kehidupan Bohl juga menandai akhir dari era kepemilikan privat atas tanah Matraman yang telah berlangsung selama 41 tahun. Aset-asetnya kemudian diserahkan kepada pemerintah kolonial, menandai transisi dari dominasi pribadi ke kontrol administratif resmi.
Sejarah Matraman kini telah berubah total dari lahan pertanian menjadi kawasan padat penduduk dan pusat ekonomi. Namun, jejak Bohl tetap tertulis dalam arsip kolonial sebagai sosok yang secara signifikan membentuk lahan tersebut selama masa kejayaannya. Kehidupan pribadinya yang misterius dan kekayaan yang dibangun di atas tanah milik banyak orang tetap menjadi bagian penting dalam narasi sejarah perkotaan Jakarta.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pemerintah Pusat dan DKI Diminta Pertemuan soal Obligasi Daerah
DPR mendesak Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat menyelesaikan perbedaan pandangan terkait rencana penerbitan obligasi senilai Rp5,6 triliun melalui pertemuan berbasis data dan aturan.
14 September 2026

Bos Konsultan Tambang Diduga Kelabui Pajak Rp38,4 Miliar
Direktur utama perusahaan konsultan pertambangan ditetapkan sebagai tersangka karena diduga menghindari pembayaran PPN senilai Rp38,4 miliar dan menyebabkan kerugian negara lebih dari Rp3 miliar.
14 September 2026

IHSG Diproyeksi Tekanan Jual Lanjutkan Koreksi
Indeks saham diprediksi melemah awal pekan ini dengan kisaran 6.370 hingga 6.705, didorong tekanan jual dan potensi koreksi lebih lanjut.
14 September 2026
Utang Whoosh Rp 116 Triliun Dicicil 80 Tahun
Utang Whoosh senilai Rp 116 triliun akan dilunasi secara bertahap dengan pembayaran tahunan Rp 1 triliun selama periode 80 tahun.
14 September 2026
Berita Lainnya

Trump Anggap Kekhawatiran AI Terlalu Ekstrem
Senin, 14 September 2026, 07.43 WITA

Aljazair Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA
Senin, 14 September 2026, 07.41 WITA

KMP Virgo Karam di Laut Jawa, 136 Penumpang Masih Hilang
Senin, 14 September 2026, 07.36 WITA

Kumpul Kebo Meningkat di Sulawesi Tenggara, Faktor Sosial dan Ekonomi Jadi Pemicu
Senin, 14 September 2026, 07.36 WITA

BGN Periksa Ulang 13.261 Dapur MBG, Bisa Dibekukan Jika Tak Memenuhi Syarat
Senin, 14 September 2026, 07.31 WITA

Celine Dion Tampil Perdana Setelah Enam Tahun, Rayakan Kemenangan atas Penyakit Langka
Senin, 14 September 2026, 07.21 WITA
Kumpul Kebo Melonjak, Sulawesi Tenggara Jadi Tren Terbesar di Tengah Tantangan Hukum dan Ekonomi
Senin, 14 September 2026, 07.20 WITA

Hainan Jadi Lumbung Ekonomi Baru China dengan Tarif Nol
Minggu, 13 September 2026, 22.35 WITA


