Jumat, 11 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terpuruk ke 6.590 Akibat Tekanan Global

Indeks saham domestik anjlok lebih dari 1% ke level 6.590, dipicu kenaikan yield obligasi AS dan eskalasi konflik Iran-Amerika yang dorong harga minyak ke atas US$100 per barel.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 19.36 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
IHSG Terpuruk ke 6.590 Akibat Tekanan Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada sesi siang hari, Kamis (10/9/2026), menyentuh level terendah 6.590,79 atau turun lebih dari 1,2% dari posisi sebelumnya yang sempat menyentuh 6.700. Penurunan ini terjadi setelah awal sesi yang menunjukkan kekuatan, namun tekanan jual mendominasi pasar hingga akhir sesi. Sebanyak 524 saham tercatat merosot, hanya 160 yang menguat, sementara 279 saham tidak mengalami perubahan harga. Nilai transaksi mencapai Rp 16,53 triliun dengan volume perdagangan mencapai 33,84 miliar lembar saham dalam 2,14 juta kali transaksi.

Sektor keuangan dan energi menjadi yang paling terdampak, dengan sektor kesehatan turun paling dalam sebesar 2,27%, disusul energi (-1,81%), properti (-1,55%), finansial (-1,34%), dan industri (-1,32%). Hanya sektor utilitas yang masih mampu mencatatkan kenaikan ringan sebesar 0,14%. Beberapa emiten besar menjadi penekan utama, di antaranya Bank BRI yang menyumbang penurunan 15,52 poin, disusul Bank Central Asia (BBCA) dengan 9,39 poin, Bayan Resources (BYAN) 9,97 poin, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) 5,02 poin, Amman Mineral (AMMN) 4,03 poin, dan Bank Mandiri (BMRI) 3,47 poin.

Dua sentimen global utama menjadi pemicu koreksi pasar: pertama, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menandai rekor baru setelah utang federal AS melampaui angka US$40 triliun. Kebijakan buyback obligasi sebesar US$6 miliar—tiga kali lipat dari operasi biasa—justru memicu reaksi negatif pasar. Yield Treasury 10 tahun melonjak ke 4,84%, yield 20 tahun mencapai 5,314%, dan yield 30 tahun menembus 5,3%, menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2023. Kenaikan ini mengurangi daya tarik aset berisiko seperti saham pasar berkembang.

Kedua, ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat memburuk setelah Iran mengklaim menyerang sepuluh kapal di Selat Hormuz, menyusul serangan AS terhadap lima tanker minyak Iran. Kenaikan harga minyak berkelanjutan selama empat hari berturut-turut, dengan minyak Brent mencapai US$101,21 per barel (naik 3,4%) dan WTI berada di US$97,06 per barel (naik 1%). Lonjakan harga energi memperburuk ekspektasi inflasi global dan membatasi ruang kebijakan moneter pelonggaran di berbagai negara. Di AS, harga diesel pun mencatat rekor baru di atas US$5,94 per galon, menunjukkan dampak langsung pada konsumen.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya