Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ikan Sapu-Sapu Bermunculan Saat Sungai Juana Kering Total

Ribuan ekor ikan sapu-sapu terdampar di dasar Sungai Juana yang mengering akibat surutnya air selama musim kemarau di Pati, Jawa Tengah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 14.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Ikan Sapu-Sapu Bermunculan Saat Sungai Juana Kering Total
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sungai Juana di Pati, Jawa Tengah, kini mengalami kekeringan total di sepanjang bendungan karet, mengungkapkan fenomena tak biasa: munculnya ribuan ekor ikan sapu-sapu yang terjebak di tanah lumpur yang retak-retak. Air yang sebelumnya mengalir kini telah menghilang, meninggalkan dasar sungai yang terbuka dan mengeras, seiring berlangsungnya musim kemarau yang berkepanjangan.

Warga sekitar memanfaatkan kondisi ini untuk menangkap ikan yang terdampar, menjadikannya sumber penghasilan sampingan. Meski ikan tersebut kerap dianggap tidak bernilai tinggi, kini justru menjadi komoditas yang dibeli oleh pabrik sebagai bahan baku. Aktivitas penangkapan dilakukan secara massal, dengan warga berbondong-bondong mengais ikan di tanah yang kering dan retak.

Kondisi tersebut terjadi setelah air sungai mengalami penurunan signifikan selama sebulan terakhir, namun baru benar-benar kering dalam sepekan terakhir. Penyebab utamanya adalah pengambilan air yang intensif untuk kebutuhan irigasi pertanian di wilayah tersebut selama musim kemarau. Ketersediaan air yang menipis akibat pemanfaatan yang tinggi telah mengubah alur sungai menjadi kering tanpa sisa.

Bau menyengat mulai tercium dari area yang dipenuhi ikan mati yang mulai membusuk. Namun, hingga saat ini, bau tersebut belum menyebar hingga ke pemukiman warga, sehingga belum menimbulkan kekhawatiran besar di masyarakat. Kondisi ini menjadi peringatan terhadap keseimbangan pengelolaan sumber daya air, terutama dalam konteks pertanian dan keberlanjutan ekosistem lokal.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya