India Percepat Penjualan Saham BUMN Atasi Defisit Fiskal
Pemerintah India mempercepat penjualan saham BUMN untuk menutup defisit anggaran, berhasil mengumpulkan lebih dari US$6,5 miliar hingga September 2026.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 15.35 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah India mengambil langkah strategis untuk mengatasi tekanan fiskal yang terus membesar, dengan memperluas program divestasi saham perusahaan milik negara. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat meski dihadapkan pada inflasi tinggi dan beban subsidi, langkah ini menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan anggaran tanpa mengurangi momentum pembangunan. Penjualan saham BUMN dijadikan instrumen utama pengumpulan dana guna mendukung kebijakan fiskal yang berkelanjutan.
Sejak awal tahun, pemerintah telah menyelesaikan penjualan saham di sepuluh perusahaan strategis, termasuk Cochin Shipyard, NHPC, Indian Railways Finance Corp, dan Coal India. Langkah terbaru adalah penjualan 6,5 persen saham di Life Insurance Corporation of India (LIC), perusahaan asuransi jiwa terbesar di negara itu. Dengan harga diskon 10 persen, penawaran ini mampu menarik minat besar dari investor, menghasilkan pendapatan sekitar US$3,3 miliar atau setara Rp59,06 triliun.
Keseluruhan program divestasi telah mengumpulkan lebih dari US$6,5 miliar atau sekitar Rp116,33 triliun hingga pertengahan September 2026. Angka ini menjadi salah satu rekor tertinggi dalam dekade terakhir, menunjukkan efektivitas strategi yang diterapkan. Pencapaian ini juga menunjukkan bahwa kebijakan tersebut mampu menarik minat pasar meski kondisi ekonomi global sedang lesu.
Target tahunan pemerintah adalah mencapai pengumpulan dana sebesar 800 miliar rupee atau sekitar US$8,4 miliar (Rp150,33 triliun) melalui divestasi saham BUMN. Hingga saat ini, India telah memenuhi lebih dari 65 persen dari target tersebut. Kepala riset ekonomi Standard Chartered Bank, Anubhuti Sahay, menilai bahwa langkah ini merupakan respons tepat terhadap tekanan fiskal yang semakin besar. Ia menyebutnya sebagai bentuk pemanfaatan aset strategis pada masa krisis.
Menurutnya, selama bertahun-tahun India gagal mencapai target divestasi karena kondisi fiskal yang relatif stabil. Namun kini, dengan risiko penurunan pendapatan dan kenaikan pengeluaran akibat subsidi, kebijakan ini menjadi penting. “Ini seperti menggali aset berharga keluarga saat dibutuhkan,” ujar Sahay, menegaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya memperkuat anggaran, tetapi juga mendorong efisiensi dan transparansi sektor publik.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Jakarta Diminta Evaluasi Kebutuhan Utang Sebelum Terbitkan Obligasi
Ekonom menekankan kewajiban persetujuan multi-instansi dan risiko gagal bayar sebelum DKI Jakarta menerbitkan obligasi daerah.
12 September 2026

Donasi Rp858 Miliar dari Investor Kripto untuk Partai Populis Inggris
Investor kripto Ben Delo menyerahkan donasi sebesar Rp858,6 miliar kepada Reform UK menjelang pemilu 2029, memecahkan rekor sumbangan politik di Inggris.
12 September 2026
Pria 36 Tahun Raih Rp151 Triliun dari Jualan Robot Otomatis
Seorang pria berusia 36 tahun sukses mengumpulkan kekayaan mencapai Rp151 triliun hanya dari penjualan robot otomatis dalam waktu singkat.
12 September 2026

Belanda Pindahkan Cadangan Emas 94 Ton untuk Kesiapsiagaan Krisis
Bank sentral Belanda memindahkan 94 ton emas dari Amerika Utara ke Inggris demi memperkuat respons cepat dalam kondisi darurat global.
12 September 2026
Berita Lainnya

Batasi Daya Baterai di Bawah 50% Saat Angkut Mobil Listrik via Kapal
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Uang Rp10 Miliar dari Sofa Penginapan Terancam Gulingkan Presiden Afrika Selatan
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Indonesia Perkuat Nelayan Skala Kecil Melalui Program Kampung Nelayan Merah Putih
Sabtu, 12 September 2026, 22.38 WITA

Harga BBM Non Subsidi Naik Per 1 September 2026
Sabtu, 12 September 2026, 22.38 WITA

<Kesalahan Strategis AS Pasca 9/11 Dibongkar Eks Diplomat>
Sabtu, 12 September 2026, 22.36 WITA

Polisi Thailand Bekuk Sindikat Obat Diet Ilegal Senilai Rp26,7 M
Sabtu, 12 September 2026, 22.36 WITA

Prabowo Hadiri KTT BRICS ke-18 di New Delhi
Sabtu, 12 September 2026, 22.35 WITA

Sinergi Bulog-TNI Percepat Penyaluran Bantuan Pangan Nasional
Sabtu, 12 September 2026, 22.31 WITA


