Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Alihkan Pasokan Gas ke Dalam Negeri

Pemerintah memangkas ekspor gas ke Singapura sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari untuk memenuhi kebutuhan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 26 Oktober 2026, 15.48 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Indonesia Alihkan Pasokan Gas ke Dalam Negeri📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Indonesia mulai menurunkan pasokan gas alam ke Singapura sejak Sabtu (24/10), dengan alih fungsi sebagian aliran gas untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Langkah ini dilakukan melalui dua jalur utama: pengalihan gas dari wilayah Natuna melalui pipa WNTS-Pulau Pemping-Batam sebesar 15 juta standar kaki kubik per hari, serta pengurangan pasokan gas dari Sumatra sebesar 16 juta standar kaki kubik per hari melalui pipa Transgasindo (TGI). Kedua skema ini bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Pengalihan pasokan ini didasarkan pada ketentuan Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, yang menegaskan prioritas pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri. Kepala SKK Migas menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat sementara dan hanya berlaku untuk Singapura, mengingat hanya negara tersebut yang menerima pasokan melalui jalur pipa yang terintegrasi dengan wilayah Indonesia.

Dalam konteks strategis, kebijakan ini merupakan respons atas arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah memprioritaskan kemandirian energi nasional. Menteri ESDM sebelumnya menyatakan bahwa keputusan perpanjangan kontrak ekspor gas ke negara tetangga akan dipertimbangkan kembali, terutama jika ada ancaman terhadap pasokan dalam negeri. Pemerintah menilai bahwa pemenuhan kebutuhan listrik di wilayah industri dan perkotaan seperti Batam dan Bintan menjadi prioritas utama.

Singapura menyatakan bahwa dampak pengurangan pasokan gas dari Indonesia terhadap kebutuhan harian negara itu kurang dari 2 persen. Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) mengonfirmasi bahwa pengurangan sebesar 17 BBTUD selama 18 hari dapat ditanggulangi melalui sumber cadangan dan kontrak cadangan lainnya. EMA menegaskan bahwa sistem energi Singapura tetap stabil, dengan gas alam menyumbang sekitar 95 persen dari total pembangkit listrik, dan pasokan berasal dari berbagai sumber, termasuk pipa Malaysia dan impor LNG.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya