Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Studi Kebijakan Bahan Bakar Nabati

Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan campuran biodiesel 50% dalam solar, mengundang minat belajar dari Jepang hingga negara Eropa.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 11.34 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 6x dibuka
Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Studi Kebijakan Bahan Bakar Nabati📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indonesia berhasil menjadi pelopor global dalam penerapan bahan bakar minyak berbahan nabati dengan kandungan biodiesel 50% (B50), mencatat sejarah baru dalam sektor energi nasional. Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis dan infrastruktur yang matang, tetapi juga membuka pintu bagi kolaborasi internasional, di mana sejumlah negara maju, termasuk Jepang dan berbagai negara Eropa, kini menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari skema regulasi dan implementasinya.

Pencapaian ini diakui secara resmi oleh pejabat pemerintah, yang menegaskan bahwa Indonesia telah melampaui standar yang diterapkan oleh negara lain. Sejak peresmian oleh Presiden pada 1 Juli 2026, B50 telah diuji coba secara luas dan mendapatkan respons positif dari berbagai pemakai, termasuk mesin kendaraan bermerek Eropa. Dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, pejabat Kementerian ESDM menyebut bahwa keberhasilan ini menjadikan Indonesia sebagai rujukan utama dalam pengembangan energi berkelanjutan berbasis kelapa sawit.

Hingga 7 September 2026, total distribusi biodiesel nasional telah mencapai 10,69 juta kiloliter, terdiri dari 7,273 juta KL B40 pada semester pertama dan 3,4 juta KL B50 yang telah disalurkan sejak Juli. Sebanyak 90% dari total 6.050 SPBU di seluruh Indonesia telah mampu menyediakan B50, sementara 76 dari 104 titik serah terminal bahan bakar telah beroperasi secara penuh. Perbandingan dengan negara lain—seperti Malaysia yang baru menetapkan B20 dan Eropa yang masih membatasi penggunaan FAME pada 7%—menunjukkan dominasi Indonesia dalam inovasi energi terbarukan.

Proyeksi dampak ekonomi dari program B50 sangat signifikan, termasuk penghematan devisa hingga Rp 170 triliun pada tahun 2026. Selain itu, kebijakan ini diperkirakan menyerap 2,1 juta tenaga kerja dan mendorong nilai tambah industri kelapa sawit domestik mencapai Rp 20,92 triliun. Pemerintah menilai bahwa pemanfaatan bahan bakar lokal seperti biodiesel dari kelapa sawit tidak hanya mendukung kemandirian energi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya