Indonesia Punya Produksi Katoda-Anoda, Tapi Masih Ekspor Sebelum Pakai Sendiri
Indonesia telah mampu memproduksi katoda dan anoda baterai listrik, namun masih mengekspor komponen tersebut sebelum kembali diimpor dalam bentuk cell untuk dipacking di dalam negeri.
Redaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 21.01 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indonesia telah berhasil membentuk kapasitas produksi katoda dan anoda baterai listrik secara mandiri, dengan fasilitas yang beroperasi di Kendal menjadi bagian dari jaringan pasok global. Menurut pernyataan resmi dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, produksi komponen kunci ini telah menunjukkan kemampuan lokal yang signifikan, bahkan mampu menjangkau pasar internasional.
Namun, di tengah pencapaian ini muncul tantangan struktural: hasil produksi dalam negeri justru diekspor dalam bentuk bahan baku sebelum kembali masuk ke Indonesia dalam bentuk cell baterai. Proses ini mencerminkan ketidaklengkapan integrasi rantai nilai, di mana tahap pengemasan atau packaging dilakukan di dalam negeri meski komponen utamanya sudah diproduksi di sini.
Pemimpin Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) menekankan bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki fondasi penting untuk menjadi pemain utama dalam industri baterai. Kekuatan awal terletak pada produksi katoda dan anoda yang sudah berjalan secara lokal, tetapi belum didukung oleh proses manufaktur lanjutan di dalam negeri.
Untuk mengatasi celah tersebut, pemerintah tengah membangun Indonesia Battery Corporation (IBC) sebagai upaya strategis memperkuat ekosistem baterai nasional. Tujuannya adalah meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dengan memastikan lebih banyak proses produksi berlangsung di dalam negeri, bukan sekadar perakitan atau packaging.
Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi tempat perakitan, tetapi berpotensi menguasai nilai tambah penuh dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik. Peningkatan integrasi industri menjadi kunci agar keunggulan produksi lokal benar-benar berdampak pada kemandirian dan daya saing nasional.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Kemenkeu Tunda Pembayaran Cicilan Rp37 Triliun ke Kopdes Merah Putih
Pembayaran cicilan pinjaman Kopdes Merah Putih senilai Rp37 triliun ditunda karena belum menerima tagihan resmi dari Himbara dan kelengkapan administrasi belum selesai.
21 September 2026

Saham BYAN Melemah Meski RKAB Anak Usaha Disetujui
Saham BYAN turun 5,06% ke level Rp13.125 meski tiga anak usahanya resmi mendapat revisi RKAB 2026 dari Kementerian ESDM dengan tambahan kuota produksi 15–20 juta ton.
21 September 2026

BEI Turunkan Harga Saham Minimum Jadi Rp1 Mulai 28 September
Bursa Efek Indonesia resmi menurunkan batas harga terendah saham dari Rp50 menjadi Rp1, berlaku mulai 28 September 2026, untuk meningkatkan likuiditas dan efisiensi pasar.
21 September 2026

Romy Bareno Resmi Jadi Komisaris Independen InJourney Airports
PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) resmi menunjuk Romy Bareno, putra jurnalis Karni Ilyas, sebagai komisaris independen sejak 16 September 2026.
21 September 2026
Berita Lainnya

Harga Beras Diproyeksikan Turun Pekan Ini
Senin, 21 September 2026, 23.18 WITA

Pemerintah Siapkan E50-B50 untuk Hemat Devisa Rp500 Triliun Tahunan
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

Prabowo Dorong Bensin dari Batu Bara untuk Kemandirian Energi
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

BYOND by BSI Perkenalkan Fitur Infaq Otomatis Terjadwal
Senin, 21 September 2026, 23.16 WITA

Dokumenter 'Skenario Sang Jenderal' Ungkap Rekayasa Pembunuhan Brigadir J
Senin, 21 September 2026, 23.12 WITA

Prancis vs Spanyol: Duel Taktik dan Kualitas di Semifinal Dunia 2026
Senin, 21 September 2026, 23.11 WITA

Argentina Melaju ke Final Piala Dunia Usai Tundukkan Inggris
Senin, 21 September 2026, 23.11 WITA

Tuchel Pertahankan Keputusan Pemain Meski Inggris Gagal ke Final
Senin, 21 September 2026, 23.11 WITA

