Selasa, 22 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Langit Oranye di Kalimantan Akibat Asap Karhutla

Warga Kalimantan Tengah melaporkan langit berwarna oranye pekat di siang hari akibat kabut asap dari kebakaran hutan, fenomena yang dijelaskan sebagai hasil hamburan cahaya oleh partikel asap.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 21.02 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Langit Oranye di Kalimantan Akibat Asap Karhutla📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah dilaporkan mengalami perubahan warna langit menjadi oranye kemerahan pada siang hari, memicu kekhawatiran dan perbincangan luas di media sosial. Video yang dibagikan oleh warga menunjukkan suasana sekitar rumah dengan langit yang tampak seperti kulit jeruk, menimbulkan reaksi takut dan heran dari penonton. Unggahan tersebut mendapatkan lebih dari 4,4 juta tayangan dan ribuan respons dalam waktu singkat, menunjukkan dampak luas dari fenomena visual ini.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam bidang astronomi, Profesor Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa perubahan warna langit bukanlah fenomena aneh atau tanda bencana alam mendekat. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut terjadi akibat partikel asap dari kebakaran hutan dan lahan yang menghalangi cahaya dengan panjang gelombang pendek. Dalam kondisi normal, cahaya matahari terdiri dari berbagai warna spektrum, namun saat melalui lapisan asap, cahaya biru, ungu, dan hijau dihamburkan, sehingga yang tersisa adalah dominasi warna merah, jingga, dan kuning.

Proses ini dikenal sebagai Mie Scattering, yaitu penghamburan cahaya oleh partikel di atmosfer yang ukurannya sebanding dengan panjang gelombang cahaya. Fenomena serupa pernah terjadi di wilayah lain saat terjadi kebakaran besar, seperti di wilayah Asia Tenggara lainnya. Thomas menekankan bahwa hamburan cahaya ini merupakan proses fisika alamiah yang tidak berbahaya secara langsung, meski tetap perlu diwaspadai karena asapnya sendiri bisa mengganggu kesehatan pernapasan.

Ia menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik terhadap perubahan warna langit, tetapi sebaiknya fokus pada upaya mitigasi asap, seperti menghindari aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk. Menurutnya, fenomena ini adalah indikator dari kondisi lingkungan yang terganggu, bukan tanda adanya peristiwa ekstrem lainnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya