Kamis, 10 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Siapkan PLTN Pertama pada 2032 dengan Fokus SMR

Indonesia menargetkan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama beroperasi komersial pada 2032, dengan fokus pada teknologi Small Modular Reactor (SMR) untuk mendukung dekarbonisasi dan kelistrikan daerah terpencil.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 10 September 2026, 11.34 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Indonesia Siapkan PLTN Pertama pada 2032 dengan Fokus SMR📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan infrastruktur regulasi dan pengawasan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama yang dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial pada 2032. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mencapai emisi netral pada 2060, dengan proyeksi kapasitas nuklir mencapai 35 gigawatt (GW) pada akhir periode tersebut. Pengembangan ini tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga kesiapan sistem pengawasan yang harus dibangun secara paralel sejak tahap awal.

Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menegaskan bahwa keberhasilan program PLTN bergantung pada kematangan sistem pengawasan yang mencakup lima pilar utama: tata kelola, analisis keselamatan, laboratorium radiasi, sumber daya manusia terlatih, serta dukungan organisasi teknis. Pihaknya menekankan bahwa kesiapan regulasi tidak boleh ditunda hingga proyek fisik dimulai, karena keselamatan dan keamanan menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pengembangan.

Dalam rencana pengadaan energi, PLTN diharapkan menyumbang 14,2% dari total produksi listrik nasional pada 2060, setara dengan sekitar 276 terawatt jam (TWh). Sejalan dengan itu, pemerintah menetapkan target awal pembangkit nuklir sebesar 500 megawatt (MW) yang akan dioperasikan mulai 2032, dengan penempatan strategis di wilayah Sumatra atau Kalimantan. Teknologi yang diprioritaskan adalah Small Modular Reactor (SMR), yang dinilai paling sesuai dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

SMR dipilih karena kemampuannya diintegrasikan ke dalam jaringan listrik kecil, cocok untuk wilayah terpencil dan kawasan industri terpencil yang sulit dijangkau oleh jaringan listrik utama. Teknologi ini juga menawarkan fleksibilitas dalam penempatan dan skala pembangunan, serta lebih mudah diawasi dibandingkan reaktor skala besar. Pemerintah menegaskan bahwa tidak akan melanjutkan proyek di lokasi yang tidak memenuhi standar keselamatan dan lingkungan paling ketat.

Di luar pembangkit listrik, kapasitas nuklir Indonesia juga akan digunakan untuk mendukung produksi hidrogen bersih, dengan alokasi 9 GW yang direncanakan mulai beroperasi pada 2045. Proyek ini menunjukkan komitmen penuh terhadap transformasi energi nasional, dengan nuklir bukan lagi sebagai opsi terakhir, melainkan sebagai komponen penting dalam bauran energi primer yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya