Inflasi Indonesia Capai 3,19 Persen Tahunan di Agustus 2026
Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan, didorong utama oleh kenaikan harga pangan dan emas, sementara sejumlah komoditas seperti bensin dan tarif penerbangan justru turun.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 13.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Inflasi Indonesia pada bulan Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen secara tahunan (yoy), menunjukkan tekanan harga yang masih cukup tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,21 persen, mencerminkan kenaikan harga yang relatif stabil namun masih terus berlanjut. Peningkatan tersebut didominasi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang menyumbang 0,57 persen terhadap angka bulanan.
Daging ayam ras menjadi komoditas utama yang mendorong kenaikan harga di kelompok tersebut, menyumbang andil sebesar 0,17 persen. Selain itu, cabai rawit, ikan segar, dan beras juga turut berkontribusi, masing-masing dengan andil 0,02 persen. Beberapa komoditas lain seperti kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, serta sigaret kretek mesin atau putih turut menyumbang inflasi dengan andil 0,01 persen per item.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi pendorong kedua terbesar inflasi dengan kontribusi 0,37 persen, didorong oleh kenaikan harga emas dan perhiasan sebesar 0,75 persen, yang menyumbang andil 0,02 persen. Sementara itu, sektor transportasi justru mengalami deflasi sebesar 0,50 persen, dipengaruhi oleh penurunan tarif angkutan udara dengan andil 0,06 persen dan penurunan harga bensin yang turut menyumbang deflasi sebesar 0,03 persen.
Inflasi inti, yang menghilangkan fluktuasi harga pangan dan energi, tercatat sebesar 0,21 persen dengan andil 0,13 persen. Harga barang yang diatur pemerintah mengalami deflasi 0,33 persen dengan andil 0,07 persen. Sementara itu, komponen harga bergejolak, yang mencakup komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan beras, menunjukkan inflasi sebesar 0,88 persen dengan andil 0,15 persen, menjadi pemicu utama fluktuasi harga secara keseluruhan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Enam Gunung Api Meletus Bersamaan, Pakar Sebut Bukan Tanda Keterkaitan
Erupsi bersamaan enam gunung api di berbagai wilayah Indonesia disebabkan oleh pertemuan siklus aktivitas alami, bukan keterkaitan sistem magma.
9 September 2026

Indonesia Belum Siap Jadi Negara Maju Menurut Analisis Terbaru
Probabilitas Indonesia menjadi negara maju masih di bawah ambang batas, tertinggal dari Thailand dan Vietnam berdasarkan metode analisis kinerja ekonomi struktural.
9 September 2026

Bank Sentral Global Perkuat Cadangan Emas di Tengah Ketegangan Geopolitik
Peningkatan belanja emas oleh bank sentral dunia mencatat rekor hingga Juli 2026, didorong kebutuhan diversifikasi cadangan dan stabilitas dalam era ketegangan global.
9 September 2026

LPS Dorong Literasi Keuangan Melalui Festival di Lampung
LPS sukses gelar Lampung Financial Festival 2026 dengan 6.800 pengunjung, fokus pada penguatan pemahaman keuangan generasi muda.
9 September 2026
Berita Lainnya

Masker Sekali Pakai Tak Boleh Dicuci, Ini Penjelasan Dokter Paru
Rabu, 9 September 2026, 15.47 WITA

Thailand Perpendek Masa Bebas Visa Jadi 30 Hari Mulai 2026
Rabu, 9 September 2026, 15.45 WITA

Larangan Bungkus Makanan Sarapan di Hotel, Ini Alasannya
Rabu, 9 September 2026, 15.44 WITA

Google Maps Bantu Lacak Lokasi Orang Terdekat Secara Real-Time
Rabu, 9 September 2026, 15.36 WITA

Demonstran Serang Anggota Parlemen, Proyek Resor Kushner Jadi Sorotan
Rabu, 9 September 2026, 15.36 WITA

Kapal Filipina Ditangkap di Sulawesi, 25 Rumpon Ilegal Dibongkar
Rabu, 9 September 2026, 15.35 WITA

BUK Migas Siap Jadi Pemimpin Utama Sektor Hulu
Rabu, 9 September 2026, 15.35 WITA

RUU Migas Dipercepat, BUK Jadi Fokus Utama
Rabu, 9 September 2026, 15.35 WITA


