Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Inflasi Indonesia Capai 3,19 Persen Tahunan di Agustus 2026

Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan, didorong utama oleh kenaikan harga pangan dan emas, sementara sejumlah komoditas seperti bensin dan tarif penerbangan justru turun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 13.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Inflasi Indonesia Capai 3,19 Persen Tahunan di Agustus 2026
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Inflasi Indonesia pada bulan Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen secara tahunan (yoy), menunjukkan tekanan harga yang masih cukup tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,21 persen, mencerminkan kenaikan harga yang relatif stabil namun masih terus berlanjut. Peningkatan tersebut didominasi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang menyumbang 0,57 persen terhadap angka bulanan.

Daging ayam ras menjadi komoditas utama yang mendorong kenaikan harga di kelompok tersebut, menyumbang andil sebesar 0,17 persen. Selain itu, cabai rawit, ikan segar, dan beras juga turut berkontribusi, masing-masing dengan andil 0,02 persen. Beberapa komoditas lain seperti kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, serta sigaret kretek mesin atau putih turut menyumbang inflasi dengan andil 0,01 persen per item.

Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi pendorong kedua terbesar inflasi dengan kontribusi 0,37 persen, didorong oleh kenaikan harga emas dan perhiasan sebesar 0,75 persen, yang menyumbang andil 0,02 persen. Sementara itu, sektor transportasi justru mengalami deflasi sebesar 0,50 persen, dipengaruhi oleh penurunan tarif angkutan udara dengan andil 0,06 persen dan penurunan harga bensin yang turut menyumbang deflasi sebesar 0,03 persen.

Inflasi inti, yang menghilangkan fluktuasi harga pangan dan energi, tercatat sebesar 0,21 persen dengan andil 0,13 persen. Harga barang yang diatur pemerintah mengalami deflasi 0,33 persen dengan andil 0,07 persen. Sementara itu, komponen harga bergejolak, yang mencakup komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan beras, menunjukkan inflasi sebesar 0,88 persen dengan andil 0,15 persen, menjadi pemicu utama fluktuasi harga secara keseluruhan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya