Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Instagram Akui Fitur Istirahat Remaja Jarang Digunakan

CEO Instagram mengungkapkan bahwa fitur 'Take a Break' hanya sedikit digunakan remaja hingga diaktifkan secara otomatis, dalam persidangan gugatan terkait dampak media sosial terhadap kesehatan mental remaja.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 16.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Instagram Akui Fitur Istirahat Remaja Jarang Digunakan
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dalam persidangan di pengadilan federal Oakland, California, Adam Mosseri, pemimpin Instagram, mengungkapkan bahwa fitur perlindungan berupa 'Take a Break' yang dirancang untuk membatasi penggunaan media sosial oleh remaja, jarang dimanfaatkan secara mandiri. Ia menjelaskan bahwa meskipun fitur tersebut diluncurkan pada 2021 dalam uji coba awal, sebagian besar remaja yang mengaktifkannya tetap memilih untuk melanjutkan penggunaan setelah waktu istirahat. Namun, jumlah pengguna yang secara sukarela mengaktifkan fitur ini setelahnya sangat rendah, sehingga perusahaan memutuskan untuk tidak mengaktifkannya secara default dalam periode awal.

Mosseri menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan karena ketidakpedulian terhadap kesejahteraan pengguna muda, melainkan hasil dari data yang menunjukkan bahwa kebanyakan remaja tidak menginginkan fitur tersebut aktif secara otomatis. Ia menyatakan bahwa perusahaan berupaya menyesuaikan pengalaman pengguna dengan preferensi mereka, meski tetap mempertimbangkan aspek keselamatan. Pernyataan ini disampaikan dalam sidang yang menjadi bagian dari gugatan bersama oleh 29 negara bagian Amerika Serikat terhadap Meta, yang menuduh perusahaan menyebabkan ketergantungan pada platform sosial di kalangan anak-anak.

Sebelumnya, Francesco Fogu, direktur desain produk Instagram, juga memberikan kesaksian bahwa timnya telah menyadari bahwa tingkat pengaktifan fitur 'Take a Break' akan menurun drastis jika tidak dijadikan setelan awal. Dalam presentasi internal tahun 2023, tim menyoroti risiko tinggi yang dihadapi remaja, termasuk paparan konten tentang kekerasan, kebencian, bunuh diri, dan seksualitas, yang lebih sering dilihat dibandingkan pengguna dewasa. Dokumen tersebut, yang menunjukkan data sensitif, diduga telah dihapus dari arsip internal perusahaan.

Persidangan ini dianggap sebagai salah satu kasus hukum terbesar terkait dampak media sosial terhadap kesehatan mental remaja di Amerika Serikat. Gugatan menekankan bahwa Meta diduga melanggar hukum federal dengan mengumpulkan data anak di bawah usia 13 tahun secara ilegal, yang dapat berpotensi menimbulkan sanksi hingga mencapai nilai 200 miliar dolar AS. Para ahli menyebut sidang ini sebagai tonggak penting dalam penilaian tanggung jawab perusahaan teknologi terhadap pengguna muda.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya