Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Investasi RI Tumbuh 7,2%, Dorong Hilirisasi dan Lapangan Kerja

Realisasi investasi semester I 2026 capai Rp 1.010,6 triliun, berkontribusi 39% terhadap pertumbuhan ekonomi dan serap 1,45 juta tenaga kerja langsung.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 16.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Investasi RI Tumbuh 7,2%, Dorong Hilirisasi dan Lapangan Kerja
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Realisasi investasi nasional pada semester pertama tahun 2026 mencatatkan angka Rp 1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan rata-rata pertumbuhan sebelumnya yang berkisar antara 28% hingga 29%. Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa tujuan utama dari setiap peningkatan angka investasi bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan peningkatan kesejahteraan rakyat. Ia menekankan bahwa setiap rupiah yang masuk harus berdampak nyata dalam menciptakan pekerjaan dan perbaikan kualitas hidup masyarakat.

Dari total investasi tersebut, telah menyerap sebanyak 1,45 juta tenaga kerja secara langsung, naik 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jumlah ini belum mencakup tenaga kerja tidak langsung yang terlibat dalam aktivitas pendukung, seperti transportasi, logistik, dan layanan pendukung lainnya. Rosan menekankan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan inklusi sosial, dengan menekankan bahwa investasi harus menjadi alat untuk memperluas akses ekonomi dan kesempatan kerja di berbagai daerah.

Komposisi investasi pada periode tersebut menunjukkan keseimbangan antara Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 507,6 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 503 triliun. Secara geografis, 50,2% dari total investasi berlokasi di luar Pulau Jawa, sedikit lebih tinggi dibandingkan Jawa. Lima provinsi di luar Jawa masuk dalam lima besar lokasi investasi nasional, termasuk Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Riau.

Sektor industri logam dasar menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 150,4 triliun atau 15% dari total investasi. Secara keseluruhan, sektor sekunder dan tersier menyumbang 85% terhadap total realisasi. Investasi hilirisasi mencatatkan kontribusi signifikan sebesar Rp 300,1 triliun, atau 29,7% dari total, tumbuh 6,9% dari tahun sebelumnya. Dominasi berasal dari hilirisasi mineral seperti nikel, bauksit, dan tembaga, disusul sektor perkebunan, kehutanan, minyak dan gas, serta perikanan dan kelautan. Sebanyak 75,7% dari investasi hilirisasi berada di luar Jawa, terutama di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.

Ke depan, pemerintah berkomitmen memperluas cakupan hilirisasi ke komoditas bernilai tambah tinggi seperti semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, dan rumput laut. Langkah ini bertujuan agar manfaat dari investasi tidak hanya terbatas pada sektor mineral, tetapi juga menjangkau berbagai sektor ekonomi dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya