Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Karhutla 2026 Ancam Kesehatan Generasi Muda

Paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan pada 2026 menyebabkan lebih dari 70 ribu balita terjangkit ISPA, mengancam tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 12.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 29x dibuka
Karhutla 2026 Ancam Kesehatan Generasi Muda📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2026 telah menimbulkan krisis kesehatan menyeramkan di sejumlah wilayah Indonesia. Data terkini menunjukkan bahwa jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di daerah terdampak mencapai 311.363 orang, dengan 70.239 di antaranya adalah anak usia balita. Angka ini menjadi peringatan dini atas dampak jangka panjang dari kebakaran lahan terhadap generasi muda, yang secara khusus rentan terhadap gangguan pernapasan akibat paparan asap berulang.

Laporan terbaru berjudul “Karhutla 2026: From Situation Analysis to Action Plan” yang disusun oleh lima lembaga, termasuk Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI), menyoroti risiko munculnya “Lost Generation” — generasi yang terancam kehilangan potensi maksimal karena kesehatan dan perkembangan kognitif yang terganggu sejak dini. Tanpa intervensi segera, diperkirakan lebih dari 13 juta penduduk di wilayah Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, hingga Papua berisiko mengalami ISPA berat dan harus dirawat di rumah sakit.

Kondisi ini bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga krisis sistemik yang terkait dengan tata kelola kawasan hutan dan gambut. Paparan asap pada anak-anak, bahkan sejak dalam kandungan, dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak, penurunan kualitas gizi, serta peningkatan risiko penyakit kronis di masa depan. Anak-anak, sebagai pihak paling tidak berdaya, menjadi korban utama dari kebijakan pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan dan minim pencegahan.

Rizal Algamar, Ketua Badan Pengurus PFI, menegaskan perlunya reformasi menyeluruh dalam kebijakan lingkungan. Ia menekankan pentingnya transparansi data, perbaikan tata kelola kawasan, penguatan kapasitas desa, serta penerapan insentif yang tepat untuk mencegah pembakaran lahan. “Kita sedang menghadapi ancaman terhadap masa depan bangsa. Krisis ini tidak bisa ditunda. Waktu untuk bertindak sudah tiba, bukan nanti,” tegasnya dalam pernyataan resmi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya