Karhutla Ancam Keanekaragaman Hayati dan Genetik Indonesia
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan mengancam kelangsungan spesies endemik dan kekayaan genetik, membutuhkan pendekatan pencegahan berbasis risiko dan perlindungan satwa secara menyeluruh.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 11.42 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 7x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan telah menjadi ancaman serius terhadap keberlangsungan flora dan fauna endemik yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan genetik alam Indonesia. Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, menekankan bahwa pemusnahan habitat akibat api tidak hanya menghancurkan pepohonan, tetapi juga merusak rantai makanan, sumber air, dan ekosistem yang telah terbentuk secara alamiah selama puluhan tahun.
Spesies seperti burung rangkong, kera bekantan, orang utan, pohon ulin, serta berbagai jenis anggrek yang hanya ditemukan di wilayah tersebut kini berada dalam bahaya kepunahan. Kehilangan habitat akibat kebakaran memaksa satwa yang selamat berpindah ke kawasan yang tidak sesuai, seperti perkebunan atau permukiman, yang berpotensi memicu konflik dengan manusia.
Menurut Rajiv, penanganan karhutla tidak boleh lagi bersifat reaktif semata, melainkan harus berbasis pencegahan jangka panjang yang melibatkan semua pihak, termasuk pemerintah daerah, penegak hukum, masyarakat adat, dan pemegang konsesi. Ia menyoroti pentingnya sistem komando terpadu yang mampu merespons setiap titik panas secara cepat, diverifikasi langsung di lapangan, dan ditangani sebelum membesar menjadi kebakaran besar.
Pemulihan ekosistem pasca-bakar, kata dia, tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Diperlukan strategi jangka panjang seperti pembentukan koridor ekologis, area preservasi, serta protokol tanggap darurat satwa yang mencakup pemetaan kawasan perlindungan, tim penyelamatan, pelayanan kesehatan, dan pemantauan pasca-kebakaran. Perlindungan satwa harus menjadi bagian integral dari setiap rencana penanganan karhutla, bahkan di kawasan yang tidak termasuk kawasan konservasi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Gandrung Sewu 2026 Tampilkan Tradisi Bercahaya di Malam Hari
Pertunjukan kolosal Gandrung Sewu 2026 digelar malam hari di Pantai Marina Boom dengan konsep glow in the dark, menggabungkan seni tradisi dan teknologi modern untuk menarik generasi muda.
25 Oktober 2026

Program Pengawal Energi 2026 Diluncurkan untuk Perkuat Pengawasan BBM
Pemerintah resmi meluncurkan Program Pengawal Energi 2026 untuk memperketat pengawasan penyaluran BBM bersubsidi dan penugasan di 3.679 SPBU melalui pemberdayaan putra-putri daerah.
25 Oktober 2026

Cak Imin Dorong Pemberdayaan bagi Penerima Bansos
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menekankan pentingnya anggaran pemberdayaan untuk penerima bantuan sosial guna kurangi ketergantungan dan tingkatkan kemandirian ekonomi.
25 Oktober 2026

Bandara Baru Sydney Mulai Beroperasi 24 Jam
Bandara Internasional Western Sydney resmi membuka penerbangan penumpang perdana dengan rute ke Gold Coast, menawarkan layanan nonstop 24 jam sehari.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

MHTG Tuntaskan Topping Off, Siapkan Pusat Kanker Terpadu
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.49 WITA

Diskon Hingga Jutaan Rupiah untuk Mesin Cuci dan Kulkas di Transmart
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.49 WITA

Moto3 Australia 2026 Batal, Veda Ega Kecewa, Danish Dapat Keuntungan
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.32 WITA

Klasemen MotoGP 2026 Stabil Usai Australia Batal Digelar
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.32 WITA

Topan Champi Ancam Taiwan dan Jepang, Ratusan Penerbangan Dibatalkan
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.32 WITA

Demonstrasi Massal Prancis Tertahan, Ratusan Ribu Jatuhkan Kritik pada Kebijakan Pemerintah
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.31 WITA

Singapura Pertahankan Komitmen Kontrak Meski Ekspor Gas Dipangkas
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.30 WITA

Demonstrasi Anti-Sistem di Barcelona Ricuh, 100 Orang Ditangkap
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.30 WITA

