Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kemenbud Dorong Ekosistem Budaya Berbasis Pembiayaan dan Pasar

Kemenbud membangun ekosistem industri budaya dari hulu ke hilir dengan fokus pada pembiayaan, pasar, dan kekayaan intelektual untuk menguatkan ekonomi dan pengaruh global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 15.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kemenbud Dorong Ekosistem Budaya Berbasis Pembiayaan dan Pasar
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan kini memperkuat pendekatan sistemik dalam pengembangan industri budaya nasional, dengan membangun rantai nilai yang terintegrasi mulai dari pembiayaan hingga distribusi pasar. Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa kekayaan budaya bukan hanya warisan untuk dilestarikan, tetapi juga potensi strategis yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat soft power Indonesia di kancah internasional.

Salah satu tantangan utama yang diidentifikasi adalah celah pembiayaan bagi pelaku kreatif di tengah skala kecil dan besar, yang dikenal sebagai "missing middle financing". Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengusulkan lima pilar utama: membangun sistem pembiayaan berkelanjutan, melindungi kekayaan intelektual berbasis budaya, memperluas akses pasar, memperkuat kemitraan lintas sektor, serta memperbaiki koordinasi antarlembaga untuk mengatasi hambatan struktural.

Fadli Zon menekankan bahwa kebudayaan dalam arti luas mencakup berbagai dimensi, mulai dari seni pertunjukan, bahasa daerah, tradisi lisan, ritual adat, hingga kuliner dan olahraga tradisional. Indonesia, menurutnya, memiliki potensi budaya yang sangat besar—sehingga layak disebut sebagai "superpower" di bidang ini. Namun, potensi tersebut baru akan berdampak jika dikelola secara sistemik, dari kreativitas hingga pemasaran.

Gerakan kolaboratif Nusantara Rising yang diluncurkan Kadin Indonesia dianggap sebagai langkah konkret dalam mewujudkan visi tersebut. Wakil Ketua Umum Bidang Kebudayaan Kadin, Rahayu Saraswati, menegaskan bahwa budaya harus dipandang sebagai aset strategis, bukan sekadar warisan. Dengan pendekatan yang tepat, budaya dapat menjadi mesin ekonomi kreatif yang mendorong daya tarik global, inovasi, dan nilai ekonomi berkelanjutan.

Pendekatan ini sejalan dengan amanat konstitusi yang menempatkan pemajuan kebudayaan sebagai tugas negara. Dengan memperkuat ekosistem dari hulu ke hilir, Indonesia berharap dapat memanfaatkan kekayaan budayanya sebagai modal utama dalam menghadapi dinamika peradaban global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya