Komnas HAM Minta Tindak Korporasi dan Pemilik Saham di Kasus Karhutla
Komnas HAM menekankan perlunya penegakan hukum yang menyentuh korporasi dan pemilik manfaat dalam kasus kebakaran hutan dan lahan, serta tuntutan pemulihan lingkungan dan perlindungan masyarakat terdampak.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 15.44 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyerukan penegakan hukum yang lebih menyeluruh terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan menekankan kewajiban hukum terhadap korporasi dan pemilik manfaat (beneficial owner) yang terlibat. Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menegaskan bahwa penanganan kasus tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan, melainkan harus menjangkau pihak-pihak yang memiliki kepentingan ekonomi dan pengaruh di balik kejadian tersebut. Ia menekankan bahwa pemerintah wajib mengungkap dan memproses secara transparan entitas korporasi serta individu yang terbukti menyebabkan atau turut serta dalam pembakaran lahan.
Dalam periode Januari hingga 21 Agustus 2026, Polri telah menangani 89 laporan dugaan tindak pidana karhutla di sembilan wilayah hukum dan menetapkan 72 orang sebagai tersangka perorangan. Namun, penyidikan masih berlangsung untuk menelusuri keterlibatan pihak-pihak lain, termasuk pemodal dan korporasi, melalui pemantauan aliran dana dan kepentingan ekonomi terkait. Komnas HAM menyatakan akan terus memantau perkembangan hukum ini, sekaligus menekankan kewajiban korporasi untuk melakukan due diligence hak asasi manusia, sesuai prinsip-prinsip yang dikeluarkan PBB.
Pemerintah diminta bertindak cepat dan terkoordinasi dalam menghentikan karhutla dengan memanfaatkan seluruh sumber daya publik secara optimal. Anis menegaskan bahwa beban penanganan tidak boleh dibebankan semata kepada masyarakat dan relawan, yang harus diberi pelatihan, perlengkapan pelindung, serta jaminan keselamatan. Ia juga meminta pemerintah memperkuat sistem pencegahan jangka panjang, termasuk pemulihan ekosistem gambut, sistem peringatan dini yang terverifikasi, standar kualitas udara berbasis WHO, serta indikator kinerja yang dapat dipantau publik.
Komnas HAM menyoroti pentingnya evaluasi perizinan dan pengelolaan konsesi, khususnya di wilayah gambut, serta keterlibatan aktif masyarakat adat dan lokal dalam upaya pencegahan. Pemerintah, kata Anis, wajib segera memenuhi hak-hak dasar masyarakat terdampak, termasuk akses terhadap lingkungan sehat, kesehatan, penghidupan, pendidikan, dan dukungan psikososial—terutama bagi kelompok rentan—tanpa menunggu selesainya proses hukum. Pemulihan lahan yang rusak harus dibebankan kepada pihak yang terbukti bertanggung jawab.
Dalam konteks ini, terungkap bahwa 19 perusahaan di Sumatra dan Kalimantan diduga menjadi pemicu karhutla, dengan total area terbakar mencapai 11.046,69 hektare. Dari jumlah tersebut, tujuh perusahaan berlokasi di Kalimantan Barat (2.260,08 hektare), tiga di Kalimantan Selatan (6.595,15 hektare), dua di Kalimantan Tengah (99,40 hektare), empat di Sumatera Selatan (772,72 hektare), satu di Lampung (202,73 hektare), dan satu di Riau (7,10 hektare). Semua perusahaan tersebut bakal dimintai pertanggungjawaban atas dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Periklindo Dorong Insentif Hybrid untuk Dukung Transisi Energi
Periklindo mendukung pemberian insentif nonfiskal bagi mobil hybrid sebagai bagian dari upaya percepatan transisi energi nasional dan pengurangan emisi.
26 Oktober 2026

Badai Musim Gugur Hantam Eropa, Listrik Padam dan Transportasi Terhenti
Badai Boelo dan Austen melanda Eropa utara dalam 24 jam, menyebabkan kematian, pemadaman listrik massal, dan gangguan transportasi di Inggris, Prancis, Jerman, serta wilayah Belanda dan Belgia.
26 Oktober 2026

Stok Beras Nasional Cukup hingga Juli-Agustus 2027
Pemerintah memastikan ketersediaan beras aman hingga 10 bulan ke depan, dengan total pasokan mencapai 25 juta ton tanpa impor selama dua tahun terakhir.
26 Oktober 2026

Protes Massal di Praha Tuntut Perlindungan Independensi Media
Ribuan warga turun ke jalan Praha menolak RUU perombakan pendanaan media publik yang dinilai mengancam kemerdekaan jurnalisme dan memperbesar pengaruh politik.
26 Oktober 2026
Berita Lainnya

Suporter Muda Tewas Usai Menonton Laga di Pakansari
Senin, 26 Oktober 2026, 17.54 WITA

Penyelidikan Dugaan Penipuan Kripto Timothy Ronald Dihentikan
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Lurah Diminta Jadi Penggerak Komunikasi Publik Berkualitas
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Kompol Aditia Mulya Tutup Usia Setelah 7 Tahun Koma Akibat Pengeroyokan
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Hakim Perintahkan Jaksa Lanjutkan Pembuktian Kasus Don Ritto dan Nurman
Senin, 26 Oktober 2026, 17.53 WITA

Samsat Ciledug Blokir McLaren Usai Salah Tagih Pajak ke Mekanik
Senin, 26 Oktober 2026, 17.52 WITA

700 Ribu Badan Usaha Diblokir Gara-Gara Tak Laporkan Pemilik Manfaat
Senin, 26 Oktober 2026, 17.52 WITA

Susu dan Jerawat: Fakta Ilmiah di Balik Mitos Minum Susu
Senin, 26 Oktober 2026, 17.51 WITA

