Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Konservasi Mangrove Lebih dari Sekadar Penanaman Bibit

Keberhasilan pelestarian mangrove ditentukan oleh kelangsungan hidup pohon, bukan jumlah bibit yang ditanam, sebut pengelola Tahura Ngurah Rai.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 17.44 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Konservasi Mangrove Lebih dari Sekadar Penanaman Bibit
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Kepemimpinan UPTD Tahura Ngurah Rai menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian ekosistem mangrove tidak diukur dari volume bibit yang ditanam dalam kegiatan seremonial, melainkan dari tingkat kelangsungan hidup tanaman tersebut dalam jangka panjang. Menurut Kepala UPTD, I Putu Agus Juliartawan, fokus utama bukan pada jumlah, melainkan pada kualitas perawatan dan adaptasi pohon di lapangan. Ia menekankan bahwa keberhasilan jangka panjang hanya bisa dicapai jika pohon mangrove mampu bertahan hingga tiga tahun tanpa intervensi berkelanjutan.

Proses pemeliharaan selama periode tersebut menjadi tantangan besar karena mangrove rentan terancam oleh berbagai ancaman, termasuk tumpukan sampah, pencemaran limbah cair, serta serangan hama seperti teritip yang dapat merusak batang dan menyebabkan kematian massal. Dalam konteks ini, keberhasilan konservasi justru tergantung pada komitmen dan kerja sama lintas sektor, termasuk lembaga swadaya, akademisi, dan masyarakat lokal.

Kolaborasi dengan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Fakultas Pertanian Universitas Udayana, serta kelompok masyarakat setempat dianggap kunci dalam menjaga keberlanjutan ekosistem. Agus secara khusus mengajak para peneliti dan mahasiswa untuk ikut serta dalam pemetaan penyakit pada mangrove serta pengembangan strategi mitigasi yang berkelanjutan. Dengan pendekatan ilmiah dan partisipatif, diharapkan dapat ditemukan solusi konkret terhadap ancaman yang mengancam keberlangsungan vegetasi pesisir.

Hingga kini, kawasan Tahura Ngurah Rai mengelola total lahan seluas 1.373 hektare, dengan sekitar 1.000 hektare di antaranya ditumbuhi mangrove. Upaya perlindungan dilakukan secara tegas, termasuk penertiban bangunan ilegal seperti vila dan kapal yang beroperasi tanpa izin. Dalam setahun terakhir, sebanyak sembilan surat peringatan telah dikeluarkan kepada pelanggar, dengan ancaman penindakan pidana jika tidak merespons hingga tahap ketiga.

Pemerintah mengajak generasi muda untuk menginternalisasi nilai Tri Hita Karana sebagai panduan dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Menurut Agus, setiap upaya perbaikan lingkungan hari ini akan berdampak positif secara alamiah di masa depan, baik dalam bentuk stabilitas ekosistem maupun perlindungan terhadap keanekaragaman hayati pesisir.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya