Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Korea Selatan Dorong Kerja Sama Teknologi Surya untuk PLTS 100 GWp

Korea Selatan menawarkan kolaborasi dalam proyek PLTS 100 GWp Indonesia melalui transfer teknologi, investasi, dan pelatihan tenaga kerja lokal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.48 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Korea Selatan Dorong Kerja Sama Teknologi Surya untuk PLTS 100 GWp📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Korea Selatan membuka ruang bagi perusahaan dalam negerinya untuk terlibat dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar di Indonesia, dengan target kapasitas mencapai 100 gigawatt peak (GWp). Meski belum terdapat pembahasan teknis spesifik, pihak Korea menyampaikan minat kuat untuk turut serta dalam proyek strategis tersebut, dengan menekankan pentingnya kerja sama multinasional guna menghindari ketergantungan pada satu mitra global.

Representatif Kedutaan Besar Korea Selatan di Jakarta, Uhm Taeho, menegaskan bahwa jika perusahaan asal Korea mendapatkan kesempatan, mereka akan membawa teknologi canggih serta modal finansial, namun tetap mengutamakan pemanfaatan tenaga kerja Indonesia dalam setiap tahap pembangunan fasilitas. Skema ini dirancang agar tidak hanya menguntungkan pihak investor, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi langsung bagi masyarakat lokal.

Ia menekankan bahwa kerja sama tidak hanya berhenti pada investasi fisik, melainkan mencakup pelatihan, peningkatan kapasitas manusia, serta transfer pengetahuan dan teknologi. Menurut Uhm, proses ini merupakan bagian alami dari pembangunan berkelanjutan yang berorientasi pada kemandirian teknologi di negara tuan rumah. Korea, yang memiliki industri surya yang mapan, berharap dapat berdiskusi lebih lanjut dengan pihak Indonesia untuk merumuskan bentuk kerja sama yang konkret dan saling menguntungkan.

Di sisi lain, perwakilan Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menegaskan bahwa komitmen Indonesia terhadap energi alternatif telah menjadi bagian dari kebijakan lintas pemerintahan. Pengembangan energi bersih, katanya, bukan sekadar tanggung jawab lingkungan, tetapi juga strategi ekonomi untuk menjaga akses ke pasar global yang semakin mempertimbangkan standar emisi.

Nabyl menyoroti kompleksitas geopolitik saat ini, termasuk ketegangan AS-China dan krisis global lainnya, yang memengaruhi pilihan mitra dan kebijakan energi. Dalam konteks itu, kerja sama dengan Korea di bidang energi bersih dan kendaraan listrik dilihat sebagai bagian dari upaya bersama menuju pertumbuhan hijau. Ia menekankan perlunya fleksibilitas dalam menangani tantangan yang muncul dari luar hubungan bilateral, termasuk perubahan tak terduga di panggung internasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya