Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Krisis Listrik di Visayas: 23 Pembangkit Mati, Siaga Merah Diberlakukan

Sebanyak 23 pembangkit listrik di wilayah Visayas Filipina lumpuh total, memicu siaga merah dan kuning karena beban puncak melebihi kapasitas sistem.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 23.02 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 24x dibuka
Krisis Listrik di Visayas: 23 Pembangkit Mati, Siaga Merah Diberlakukan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi kritis menyeruak di jaringan listrik wilayah Visayas, Filipina, setelah National Grid Corporation of the Philippines (NGCP) mengumumkan penerapan status siaga merah dan kuning pada sistem transmisi. Peringatan tersebut berlaku mulai pukul 17.00 hingga 19.00 waktu setempat, menyusul diperkirakannya lonjakan beban puncak mencapai 2.557 megawatt (MW), yang hampir menyentuh batas kapasitas tersedia sebesar 2.583 MW. Ancaman kekurangan pasokan listrik pun semakin nyata akibat sejumlah pembangkit yang tidak beroperasi secara optimal.

Berdasarkan laporan resmi NGCP, sebanyak 23 pembangkit listrik mengalami pemadaman paksa, sementara 21 unit lainnya beroperasi dengan kapasitas menurun. Kondisi ini mengancam stabilitas pasokan listrik, terutama pada jam-jam puncak konsumsi. Dalam situasi seperti ini, siaga merah diberlakukan ketika sistem tidak mampu memenuhi permintaan puncak sekaligus memenuhi standar pengendalian jaringan, sementara siaga kuning diterapkan saat margin operasional sistem dinilai tidak cukup untuk mengantisipasi gangguan mendadak.

Penyebab utama krisis berasal dari ketidaktersediaan dua unit pembangkit kunci: Unit 3 Panay Energy Development Corporation dan Unit 1 KEPCO SPC Power Corporation. Kedua fasilitas tersebut merupakan sumber listrik penting di wilayah tersebut. Selain itu, pasokan listrik impor dari Mindanao juga terbatas karena adanya pemadaman terencana di sejumlah pembangkit di wilayah tersebut, memperparah tekanan pada jaringan Visayas.

Dengan kondisi ini, NGCP menegaskan perlunya penanganan cepat dan koordinasi intensif antara operator pembangkit, pemerintah daerah, dan lembaga pengatur energi. Langkah-langkah antisipatif seperti pembatasan beban dan pengaturan distribusi dinilai perlu diterapkan untuk mencegah pemadaman sistemik yang lebih luas. Kondisi siaga merah menandakan risiko tinggi terhadap ketersediaan listrik yang stabil dan aman bagi masyarakat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya